Sejarah Andalusia - Spanyol
merupakan tempat paling utama dan jembatan emas bagi Eropa dalam menyerap
peradaban Islam dan hasil-hasil kebudayaan Islam, baik dalam bentuk hubungan
politik, social, perekonomian, maupun peradaban antarnegara. Orang-orang eropa
menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada dibawah kekuasaan Islam jauh
meninggalkan negara-negara tetangga Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan
sains. Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang
budi kepada khazanah ilmu pengetahan Islam yang berkembang di periode klasik.
![]() |
Andalusia |
A. Proses Masuknya Islam di Spanyol
Semenanjung
Iberia di Eropa, yang meliputi wilayah Spanyol dan wilayah Portugal sekarang
ini, menjorok ke selatan ujungnya hanya dipisahkan oleh sebuah selat sempit
dengan ujung benua Afrika. Bangsa Grit tua menyebut selat sempit itu dengan
tiang-tiang Hercules dan di seberang selat sempit itu terletak di benua Eropa.
Selat sempit itu sepanjang kenyataan memisahkan lautan tengah dengan lautan
atlantik.
Semenanjung
Iberia, sebelum ditaklukkan bangsa Visighots pada tahun 507 M, didiami oleh
bangsa Vandals. Justru wilayah kediaman mereka itu disebut dengan Vandalusia.
Dengan mengubah ejaanya dan cara membunyikannya, bangsa Arab pada masa
belakangan menyebut semenanjung Iberia itu dengan Andalusia.
Spanyol
diduduki oleh umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang
khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan
Spanyol, umat islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai
salah satu provinsi dari dinasti umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika
Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul
Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi Gubernur di daerah itu.
Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin
Nushair. Di zaman Al-walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaanya
dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia menyempurnakan penaklukan
ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan,
sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji akan membuat kekacauan-kekacauan
seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Dalam
proses penaklukan Spanyol ada 3 pahlawan Islam yang memimpin pasukan kesana
yakni Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Namun, yang
sebagai perintis dan penyelidik kedatangan Islam ke Andalusia adalah Tariq ibn
Ziyad.
Ia yang telah memimpin pasukan tentera menyeberangi lautan Gibralta (Jabal
Thariq) menuju ke semenanjung Iberia. Musa ibn Nushair pada tahun 711 M,
mengirim pasukan Islam dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad yang hanya berjumlah
7000 orang dan tambahan pasukan 5000 personel yang memang tak sebanding dengan
tentera pasukan Gothik yang berkekuatan 100.000 lengkap bersenjata. Namun, pada
akhirnya, Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, dengan mengalahkan Raja
Foderick di Bakkah dan menaklukan kota-kota penting seperti Cordova, Granada,
Toledo dan hingga akhirnya menguasai seluruh kota penting di Spanyol.
![]() |
Peta andalusia |
Kemenangan-kemenangan
Islam terlihat nampak begitu mudah. Tentu hal ini didorong oleh faktor-faktor
baik karena tokoh-tokoh pejuang dan prajurit Islam yang kuat, kompak dan penuh
percaya diri dan juga didorong oleh faktor-faktor yang menguntungkan Islam
yakni kondisi sosial, politik dan ekonomi Spanyol yang buruk pada waktu itu.
B. Periode Kekuasaan Islam di Spanyol
Sejak pertama kali Islam menginjakkan kaki di
daerah Spanyol hingga masa jatuhnya, Islam memiliki peranan yang sangat penting
dan besar dalam perkembangan umat Islam. Islam di Spanyol berjaya dan berkuasa
selama tujuh setengah abad dan itu merupakan waktu yang sangat lama untuk
mengembangkan Islam. Menurut Dr. Badri Yatim, sejarah panjang Islam di Spanyol
dapat dibagi dalam beberapa periode:
1. Periode pertama (711-755M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah
pemerintahan para wali yang diangkat oleh Bani Umayyah yang berpusat di
Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum
tercapai sempurna, berbagai gangguan masih terjadi baik yang datang dari luar
maupun dari dalam.
Gangguan yang datang dari dalam yaitu berupa
perselisihan diantara elit penguasa. Disamping itu, terdapat perbedaan
pandangan antar khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di
Kairawan. Adapun gangguan yang datang dari luar yaitu datangnya dari sisa-sisa
musuh islam di Spanyol yang tinggal di daerah pegunungan.
2. Periode kedua (755-912 M)
Pada periode ini Spanyol di bawah pemerintahan
Abbasiyah di Baghdad. Amir yang pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki
Spanyol, tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdurrahman
Ad-Dakhil adalah keturunan dari bani umayyah yang berhasil lolos dari kejaran
Bani Abbasiyah ketika Bani Abbasiyah berhasil menaklukkan Bani Umayyah di
Spanyol.
Pada periode ini, umat Islam mulai memperoleh
kemajuan, baik dalam bidang politik atau pun peradaban. Islam pada saat itu
mulai mengalami perkembangan yang begitu dashyat dan mampu memperluas wilayah
kekuasaannya di daerah Spanyol. Abdurrahman Ad-Dakhil mendirikan mesjid cordova
dan sekolah-sekolah di kota-kota besar di Spanyol.
3. Periode ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini berlangsung mulai dari
pemerintahan abdurrahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya
raja-raja kelompok (Muluk al-thawaif). Pada periode ini spanyol
diperintah oleh penguasa dengan khalifah. Pada periode ini umat Islam di
Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejaaan yang menyaingi daulah
Abbasiyah di baghdad. Abdurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordoba.
Perpustakaannya memiliki ratusan ribu buku. Pada masa ini, masyarakat dapat
menikmati kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi.
Abdurrahman III adalah seorang raja yang
teramat sangat lama memerintah 50 tahun lamanya. 50 tahun dia membela kerajaan
yang telah didirikan nenek moyangnya. Masa pemerintahan Abdurrahman III adalah
masa yang amat gemilang dalam sejarah Arab Spanyol. Segala pemberontakan di
padamkan, perpecahan disatukan disatukan kembali, perselisihan di hapuskan.
Pada saat pemerintahan Abdurrahman III, islam telah sanggup mempertahankan
kekuasaan arab di Spanyol. Ia juga meninggalkan jejak besar dalam sejarah tidak
saja di semenanjung Iberia tetapi juga seluruh Eropa.
Setelah masa kekhalifahan Abdurrahman III yang
dilanjutkan oleh puteranya, Al-Hakam II (961-976 M) dan putera Al-Hakam II,
Hisyam II (976-1009 M). Namun, ketika Hisyam menduduki kepemimpinan dalam usia
11 tahun merupakan awal dari kehancuran Bani Umayyah di Spanyol. Hingga pada
tahun 1013 M, Spanyol sudah terpecah menjadi negara-negara kecil yang berpusat
di kota-kota tertentu.
4. Periode keempat (1013-1086 M)
Pada masa ini Spanyol sudah terpecah-pecah
menjadi beberapa negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Bahkan pada
periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah
pemerintahan raja-raja golongan atau Al-mulukuth Thawaif yang
berpusat di suatu kota seperti sevilla, Cordoba, Taledo dan sebagainya.
Pada periode ini umat islam di Spanyol kembali
memasuki pertikaian intern. Ironisnya jika itu terjadi perang saudara, ada di
antara pihak-pihak yang bertikai itu meminta bantuan kepada raja-raja Kristen.
Namun, walau pun demikian, kehidupan intelektual terus berkembang pada periode
ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan
perlindungan dari istana ke istana yang lain.
5. Periode kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini Islam di Spanyol meskipun
masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang
dominan yakni kekuasaan dinasti marurabithun (1086-1143 M) dan dinasti
muwahhidin (1146-1235 M):
a. Dinasti Murabitun
Dinasti murabitun pada mulanya adalah sebuah
gerakan agama yang kuat dan besar yang didirikan oleh Yusuf bin Tasyfim di
Marocco, Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan kerajaan yang
berpusat di marakesy. Dan akhirnya, islam dapat memasuki Spanyol dan dapat
menguasainya.
Dalam perkembangannya selanjutnya, pada
dinasti ini dipimpin oleh penguasa-penguasa yang lemah sehingga mengakibatkan
wilayah Saragossa dapat dikuasai oleh kaum Kristen pada tahun 1118 M. Pada
tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini digantikan oleh dinasti Muwahhidun.
c. Dinasti Muwahhidun
Dinasti ini berpusat di Afrika Utara yang
didirikan oleh Muhammad ibn Tumart. Pada masa ini telah berdiri dua
kerajaan kecil-kecil yang kuat yaitu di Negeri Balansia (Valencia) dan Marsiah
(Marcia). Dinasti ini datang ke Spanyol dibawah pimpinan Abd-Al-Mun’im. Dinasti
ini mengalami banyak kemajuan dimana kota-kota muslim penting yakni Cordova,
Almeria, dan Granada jatuh dibawah kekuasaannya. Akan tetapi dinasti Muwahhidun
mengalami kemunduran dimana pada tahun 1212 M, tentara Kristen berhasil
memperoleh kemenangan di Las Navas de Tolesa. Dalam kondisi demikian umat
muslim tidak mampu bertahan dari serangan-serangan kristen yang besar.
Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh
pada tahun 1248 M. Hampir seluruh wilayah Spanyol islam lepas dari tangan
penguasa islam.
6. Periode keenam (1248-1492 M)
Pada peride ini hanya berkuasa di granada di
bawah Dinasti Ahmar atau daulat Nasriyah (1232-1492 M). Dinasti ini yang
mendirikan istana Alhambara di kota Granada tu. Peradaban kembali mengalami
kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi, secara politik
dinasti merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena
perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abbdullah
Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain
sebagai penggantinya menjadi raja. Ia memberontak dan berusaha merampas
kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh
muhammad bin sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan
Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa ini Kristen ini dapat mengalahkan
penguasa yang sah, dan Abu Abdullah naik tahta.
Ferdinand dan Isabella akhirnya mempersatukan
dua kerajaan besar Kristen yaitu negeri Aragon dan Castillia melalui
perkawinan. Setelah bersatu, mereka mempersatukan kekuatan memerangi kerajaan
Granada pada tahun 1492 M. Namun, pada akhirnya mereka menyerang balik terhadap
kekuatan Abu Abdullah. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan
penguasa Kristen tersebut sehingga pada akhirnya Abu Abdullah kalah dalam
peperangan tersebut. Abu Abdullah akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada
Ferdinand dan Isabella, sedangkan Abu Abdullah hijrah ke Afrika Utara.
Dengan jatuhnya kerajaan Bani Ahmar,
berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M sampai tinggal
sisa-sisanya yang kemudian dipaksa oleh paus-paus di Roma untuk memeluk agama Nasrani.
Maka, ada yang memeluk nasrani dengan terpaksa, ada yang dibunuh dan ada yang
masih tetap memeluk agama nenek moyangnya dengan diam-diam. Pada tahun 1609 M,
boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di wilayah ini. Walau pun islam telah
berjaya dan dapat berkuasa di sana selama hampir tujuh setengah abad lamanya.
C. Perkembangan
Peradaban Islam di Andalusia
1. Perkembangan Politik
Pada waktu Bani Umayyah (661-750 M) yang
berpusat di Damaskus jatuh pada tahun 132 H (750 M) dan digantikan oleh
Bani Abbasiyah yang berkedudukan di Baghdad. Pada saat itu terjadi pembunuhan
massal serta pengejaran terhadap sisa-sisa keluarga Umayyah, terdapat seorang
amir yang dapat meloloskan diri dan selamat dari pembantaian, ia bernama Amir
Abdurrahman bin Muawiyyah bin Hisyam bin Abdil Malik. Ia memasuki Mesir, Barca
(Libya), dan Afrika Utara. Selama berjuang selama tidak kurang dari enam tahun,
Abdurrahman berhasil memasuki Andalusia.
Pada awalnya, amir yang memegang kekuasaan
terakhir di Andalusia menjelang tahun 138 H (756 M) adalah seorang wali Yusuf
ibnu Abdirrahman Al-Fihri dari suku Mudhari yang ditunjuk oleh Khalifah di
Damaskus, dengan masa jabatan biasanya 3 tahun. Namun pada tahun 740an M,
terjadi perang saudara yang menyebabkan melemahnya kekuasaan Khalifah. Dan pada
tahun 746 M, Yusuf Al-Fihri memenangkan perang saudara tersebut, menjadi
seorang penguasa yang tidak terikat kepada pemerintahan di Damaskus. Namun pada
tahun 756 M, Abdurrahman melengserkan Yusuf Al-Fihri, dan menjadi penguasa
Kordoba sehingga ia dijuluki “Abdurrahman Addakhil” dengan gelar Amir
Kordoba (Abdurrahman I). Dapat dikatakan bahwa Abdurrahman I merupakan “founding
father” Daulah Umayyah di Andalusia dan sekaligus sebagai peletak dasar
kebangkitan kebudayaan Islam di Andalusia.
2. Perkembangan Pembangunan
Kemajuan Bani Umayyah di Andalusia diraih pada
masa pengganti Abd al-Rahman al-Dakhil. Kemajuan Kordova ditandai dengan
pembangunan yang megah diantaranya:
a.
al-Qashr al-Kabir , kota satelit
yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana megah.
- Rushafat, istana yang dikelilingi oleh taman yang di sebelah
barat laut Cordova.
- Masjid jami’ Cordova, dibangun tahun 170 H/786 M yang hingga
kini masih tegak.
- Al-Zahra, kota satelit di bukit pegunungan Sierra Monera pada
tahun 325 H/936 M. Kota ini dilengkapi dengan masjid tanpa atap (kecuali
mihrabnya) dan air mengalir ditengah masjid, danau kecil yang berisi
ikan-ikan yang indah, taman hewan (margasatwa), pabrik senjata, dan pabrik
perhiasan.
3. Perkembangan Ekonomi
Perkembangan baru spanyol juga didukung oleh
kemakmuran ekonomi pada abad ke-9 dan abad ke-10. Perkenalan dengan pertanian
irigasi yang didasarkan pada pola-pola negeri Timur mengantarkan pada
pembudidayaan sejumlah tanaman pertanian yang dapat diperjual-belikan ,
meliputi buah ceri, apel, buah delima, pohon ara, buah kurma, tebu, pisang,
kapas, rami dan sutera. Pada saat yang sama, Spanyol memasuki fase perdagangan
yang cerah lantaran hancurnya penguasaan armada Bizantium terhadap wilayah
barat laut Tengah. Beberapa kota seperti seville dan Cordova mengalami
kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan perdagangan
internasional.
4. Perkembangan Intelektual
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasan Islam
di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak sekali
kontribusi bagi kebangunan budaya Barat. Kebangkitan intelektual dan kebangunan
kultural Barat terjadi setelah sarjana-sarjana Eropa mempelajari, mendalami dan
menimba begitu banyak ilmu-ilmu Islam dengan cara menerjemahkan buku-buku ilmu
pengetahuan Islam ke dalam bahasa Eropa. Mereka dengan tekun mempelajari bahasa
Arab untuk dapat menerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Islam.
Dalam sejarah Andalusia, kota Toledo pernah
menjadi pusat penerjemahan. Banyak sarjana-sarjana Eropa yang berdatangan ke
kota Toledo untuk belajar dan mendalami buku-buku ilmu pengetahuan Islam. Islam
di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam
bentangan sejarah Islam. Sains dan Teknologi.
Masyarakat
Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari
komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang
spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah
(penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman
dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi,
Kristen Mujareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran
Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan sumbangan
intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan
kebangkitan llmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol. Disamping dari
faktor kemajemukan masyarakatnya, negeri yang subur juga mendorong negeri
Spanyol dalam mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya
banyak menghasilkan pemikir. Berikut dibawah ini uraian mengenai perkembangan
intelektual di masing-masing bidang:
a. Astronomi
Di bidang astronomi, sarjana Islam
al-Khawarizmi banyak sekali memberikan sumbangannya dengan karya-karyanya dan
mempunyai pengaruh terbesar terhadap kontribusi ilmu pasti diantara semua
penulis di abad pertengahan. Ia menulis buku al Jabr wa al-Muqabalah,
yang memuat daftar astronomi yang tertua dan al-Khwarizmi merupakan orang
pertama yang menyusun buku ilmu berhitung dan aljabar.
Namun disamping itu, tokoh yang paling terkenal
dalam ilmu astronomi adalah Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash. Ia dapat menentukan
waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga
berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya
dan bintang. Ada pula Al-majiriyah dari Cordova, al-Zarqali dari Toledo dan Ibn
Aflah dari Seville, merupakan para pakar ilmu perbintangan yang sangat terkenal
saat itu.
b. Matematika
Ilmu eksakta yakni matematika mulai berkembang
karena didorong dengan adanya perkembangan filsafat. Ilmu pasti dikembangkan
orang Arab berasal dari buku India yaitu Sinbad, yang diterjemahkan dalam
bahasa Arab oleh Ibrahim al-fazari (154 H/ 771 M). Dengan perantara buku ini,
kemudian Nasawi seorang pakar matematika memperkenalkan angka-angka India
seperti 0,1, 2, hingga 9), sehingga angka-angka India di Eropa lebih dikenal
dengan angka Arab.
c. Filsafat
Sumbangan Islam dalam filsafat tak kurang pula
terhadap dunia Barat. Minat filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan
pada abad ke-9 M di masa Khilafah Bani Umayyah, Muhammad ibn Abd al-Rahman
(832-886 M). Karya-karya ilmiah dan filosofis dalam jumlah besar diimpor dari
Timur, sehingga Cordova menjadi perpustakaan dan universitas besar yang dapat
menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan didunia Islam. Dalam
keadaan ini, maka Spanyol banyak melahirkan filosof-filosof besar.
Tokoh pertama dalam sejarah filsafat
Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh (Ibn Bajjah). Ia lahir di
Saragosa, lalu pindah ke Sevilla dan Granada. Ia bersifat etis dan eskatologi
dalam masalah yang dikemukakannya seperti al-Farabi dan Ibn Sina. Magnum
opusnya adalah tadbir al-Mutawahhid.Tokoh kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail,
penduduk asli Wadi Asy (sebuah dusun kecil disebelah timur Granada. Karya
filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Abad 12
sampai abad 16, aliran Ibn Rusyd (1126-1198 M) mendominasi lapangan filsafat di
Iberia dan Eropa. Ibn Rusyd dari Cordova ini, dikenal sebagai komentator
pikiran-pikiran Aristoteles sehingga dijuluki Aristoteles II. Ia juga memiliki
ciri kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah tentang keserasian filsafat
dan agama. Sedang al-Kindi terkenal dengan menggabungkan dalil-dalil Plato dan
Aristoteles dengan cara Neo-Platonis.
d. Kedokteran
Ada banyak sumbangan Islam yang sangat menonjol
dan telah menjadi dasar kemajuan Barat dalam ilmu kedokteran. Dokter Islam,
al-Kindi (809-873 M), telah menulis buku Ilmu Mata yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin menjadi Optics. Selain itu, terkenal pula ar-Razi (865-925 M) yang
oleh orang Barat-Latin disebut Rhazez. Ia mengarang sebuah buku kedokteran
berjudul al-Hawi. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh Faraj bin Salim
(seorang tabib Yahudi dari Sicilia) ke dalam bahasa Latin dengan judul Continens
atas perintah Raja Farel dari Anyou. Ia memuat dan merangkum ilmu ketabiban
dari Persi, Yunani dan Hindu, dan hasil-hasil penyelidikan.
Ahli kedokteran yang terkenal pada saat itu
antara lain adalah Abu al-Qasim al-Zahrawi. Di Eropa ia dikenal dengan nama
Abulcassis. Beliau adalah seorang ahli bedah terkenal dan menjadi dokter
istana. Ia wafat pada tahun 1013 M. Di antara karyanya yang terkenal adalah
al-tasrif terdiri dari 30 jilid. Selain al-Qasim, terdapat seorang filosuf
besar bernama Ibn Rusyd yang juga ahli dalam bidang kedokteran. Di antara karya
besarnya adalah Kulliyat al-Thib.
Dokter islam lain yang terkenal adalah Ibnu
Sina (Avecinna). Ia menulis buku yang berjudul al-Qonun fit-Thib,
diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul Qonun of Medicine dan menjadi
buku pegangan diperguruan-perguruan tinggi selama 30 tahun terakhir dari abad
15. Buku kedoteran lain Ibn Sina berjudul Materia Medica memuat
kira-kira 760 macam ilmu dipakai pedoman terutama di Barat. Dikatakan oleh
William Osler, bahwa diantara kitab-kitab yang lain, kitab Ibnu Sina lah yang
tetap merupakan dasar ilmu ketabiban untuk masa yang paling lama.
e. Sastra
Lahirnya karya-karya sastra di dorong oleh
kemajuan bahasa pada waktu itu. Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi
dalam pemerintahan Islam di Spanyol baik oleh orang-orang Islam maupun
non-islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomorduakan bahasa asli mereka.
Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan
berbicara maupun tata bahasa. Karya-karya sastra yang banyak bermunculan,
seperti al-‘Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirah fi
Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, kitab al-Qalaid karya
al-Fath Ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.
f. Sejarah
Dalam bidang ilmu sejarah ternyata karya-karya
ilmu sejarah ternyata juga memberikan sumbangan dan pengaruh dalam
pemikiran-pemikiran sarjana Barat. Ibnu Khaldun, melalui karya Muqaddimah-nya,
dialah yang pertama kali mengemukakan teori perkembangan sejarah, baik
berdasarkan penyelidikan faktor jasmani dan iklim, maupun kekuatan moral dan
ruhani. Sebagai orang yang mencari dan merumuskan hukum kemajuan dan keruntuhan
bangsa, maka Ibnu Khaldun dapat dianggap sebagai pencipta ilmu baru, karena tak
ada penulis Arab maupun Eropa yang mempunyai pandangan sejarah yang sejelas itu
dan mengulasnya secara filsafat. Buku Muqaddimah Ibnu Khaldun menjadi
tumpuan studi para ahli Barat dan ahli-ahli lainnya, dan kebebasan Ibnu Khaldun
diakui oleh sejarawan Toynbee.
D. Keruntuhan Kekuasaan Islam di Andalusia
Dalam masa kekuasaan Islam di Spanyol yang
begitu lama tentu memberikan catatan besar dalam mengembangkan dan memberikan
sumbangan yang sangat berharga bagi peradaban dunia. Namun, sejarah panjang
yang telah diukir kaum muslim menuai kemunduran dan kehancuran. Kemunduran dan
kehancuran disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
Konflik Islam dengan Kristen
Keadaan ini berawal dari kurang maksimalnya
para penguasa muslim di Andalusia dalam melakukan proses Islamisasi. Hal ini
mulai terlihat ketika masa kekuasaan setelah al-Hakam II yang dinilai tidak
secakap dari khalifah sebelumnya. Bagi para penguasa, dengan ketundukan
kerajaan-kerajaan kristen dibawah kekuasaan kristen hanya dengan membayar upeti
saja, sudah cukup puas bagi mereka. Mereka membiarkan umat Kristen menganut
agamanya dan menjalankan hukum adat dan tradisi kristen, termasuk hirarki
tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata.
Namun, kehadiran Arab Islam tetap dianggap
sebagai penjajah sehingga malah memperkuat nasionalisme masyarakat Spanyol Kristen.
Hal ini menjadi salah satu penyebab kehidupan negara Islam di Andalusia tidak
pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Akhirnya pada abad
ke-11, umat Islam Andalusia mengalami kemunduran, sedang umat Kristen
memperoleh kemajuan pesat dalam bidang IPTEK dan strategi perang.
Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Hal ini terjadi hingga abad ke-10 atas
perlakuan para penguasa muslim sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah
terhadap para mu’allaf yang berasal dari umat setempat. Mereka diperlakukan
tidak sama seperti tempat-tempat daerah taklukan Islam lainnya. Kenyataan ini
ditandai dengan masih diberlakukannya istilah ibad dan muwalladun,
suatu ungkapan yang dinilai merendahkan.
Akhirnya kelompok-kelompok etnis non-Arab
terutama etnis Salvia dan Barbar, sering menggerogoti dan merusak perdamaian.
Hal ini menimbulkan dampak besar bagi perkembangan sosio-ekonomi di Andalusia.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ieologi pemersatu yang mengikat kebangsaan
mereka. Bahkan banyak diantara mereka yang berusaha menghidupkan kembali
fanatisme kesukuan guna mengalahkan Bani Umayyah.
Kesulitan Ekonomi
Dalam catatan sejarah, pada paruh kedua masa
Islam di Andalusia, para penguasa begitu aktif mengembangkan ilmu pengetahuan
dan peradaban Islam, sehingga mengabaikan pengembangan perekonomian. Akibatnya
timbul kesulitan ekonomi yang memberatkan dan berpengaruh bagi perkembangan
politik dan militer. Kenyataan ini diperparah lagi dengan datangnya musim
paceklik dan membuat para petani tidak mampu membayar pajak. Selain itu,
penggunaan keuangan negara tidak terkendali oleh para penguasa muslim.
Tidak jelasnya Sistem Peralihan kekuasaan
Kekuasaan merupakan hal yang menjadi perebutan
diantara ahli waris. Karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk
al-Thawaif muncul. Maka, Granada yang awalnya menjadi pusat kekuasaan Islam
terakhir di Spanyol akhirnya jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella.
Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan negeri terpencil dari
dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan
kecuali dari Afrika Utara. Oleh karena itu, tidak ada kekuatan alternatif yang
mampu membendung kebangkitan Kristen disana.