Sejarah Perang Mu’Tah (3.000 Pasukan Muslim Vs 200.000 Pasukan Romawi) - Pertempuran
paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan
Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan
terkuat di muka bumi saat itu, pasukan romawi dengan kaisarnya Heraclius yang
membawa pasukan sebanyak 200.000 orang. Pasukan super besar tersebut merupakan
pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab sekitar dataran
Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mu’tah –sehingga sejarawan
menyebutnya perang Mu’tah (sekitar
Yordania sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.
![]() |
Sejarah Perang Mu’Tah (3.000 Pasukan Muslim Vs 200.000 Pasukan Romawi) |
Penyebab Terjadinya PERANG
Mu’tah
Penyebab
perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-‘Azdi yang akan dikirim ke
penguasa Bashra (Romawi Timur) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru
diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Di tengah perjalanan, utusan itu dicegat dan
ditangkap penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, pemimpin
dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar
Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal.
Dan
pada tahun yg sama, 15 orang utusan Rasulullah dibunuh di Dhat al Talh daerah
disekitar negeri Syam (Irak). Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dibunuh dalam misinya.
Pelecehan
dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh
utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat Rasulullah
marah. Mendengar utusan damainya dibunuh, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam sangat sedih. Setelah sebelumnya berunding dengan para Shahabat, lalu
diutuslah pasukan muslimin sebanyak 3000 orang untuk berangkat ke daerah Syam,
sebuah pasukan terbesar yang dimiliki kaum muslim setelah perang Ahzab.
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sadar melawan penguasa Bushra berarti
juga melawan pasukan Romawi yang notabene adalah pasukan terbesar dan adidaya
di muka bumi ketika itu. Namun ini harus dilakukan karena bisa saja suatu saat
pasukan lawan akan menyerang Madinah. Kelak pertempuran ini adalah awal dari
pertempuran Arab – Byzantium.
Rasulullah
Shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata:
“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)
Ini
pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tiga panglima
sekaligus karena beliau mengetahui kekuatan militer Romawi yang tak tertandingi
pada waktu itu.
Ketika
pasukan ini berangkat Khalid bin al-Walid secara sukarela juga ikut
menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak
memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan
selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah
Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga turut mengantarkan mereka sampai ke Tsaniatul
Wada’, diluar kota Madinah dengan memberikan pesan kepada mereka: Jangan
membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan
rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata:
Allah
menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat.
Komandan
pasukan itu semula merencanakan hendak menyergap pasukan Syam secara tiba-tiba,
seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sebelumnya. Dengan
demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa
kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma’an di bilangan Syam dengan tidak
mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.
Sejarah Berlangsungnya
Perang Mu’tah
Article-arrows
Kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Musuh pun mendengar keberangkatan
mereka. Dipersiapkanlah pasukan super besar guna menghadapi kekuatan kaum
Muslimin. Kaisar Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi
sedangkan Syurahbil bin ‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari
kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘. Kedua pasukan itupun bergabung.
Berdasarkan informasi, pasukan tersebut dipimpin oleh Theodore, saudara
Heraklius.
Mendengar
kekuatan musuh yang begitu besar, kaum Muslimin berhenti selama dua malam di
daerah bernama Ma’an wilayah Syam guna merundingkan apa langkah yang akan
diambil. Beberapa orang berpendapat,
“Sebaiknya
kita menulis surat kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, melaporkan
kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang
lebih besar lagi, atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan.”
Tetapi
Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan
semangat pasukan dengan ucapan berapi-api:
“Demi
Allah Subhânahu wata‘âlâ, sesungguhnya apa yang kalian tidak sukai ini adalah
sesuatu yang kalian keluar mencarinya, yaitu syahid (gugur di medan perang).
Kita tidak berperang karena jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita
berjuang semata-mata untuk agama ini yang Allah Subhânahu wata‘âlâ telah
memuliakan kita dengannya. Majulah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan;
menang atau gugur (syahid) di medan perang.” Lalu mereka mengatakan, “ Demi Allah,
Ibnu Rawahah berkata benar.”
Demikianlah,
pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi
musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk
menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya pada masa sebelum
itu.
Perlu
kita ketahui, tentara di medan perang dibagi menjadi lima pasukan, yaitu:
pasukan depan, belakang, kanan, kiri, dan tengah sebagai pasukan inti. Tentara
musuh dengan jumlah yang sangat banyak mengharuskan seorang tentara dari
sahabat melawan puluhan tentara musuh. Akan tetapi, tentara Allah yang memiliki
kekuatan iman dan semangat jihad untuk meraih kemulian mati syahid tidak
merasakannya sebagai beban berat bagi mereka sebab kekuatan mereka satu banding
sepuluh –sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
firman-Nya,
“Jika
ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.”
(QS. Al Anfal: 65)
Tentara
Allah sebagai wali dan kekasih-Nya yang berperang untuk meninggikan agama-Nya,
maka pasti Allah bersama mereka. Adapun orang-orang kafir sebanyak apapun
bilangan dan kekuatan mereka, maka ibarat buih yang tidak berarti apa-apa.
KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA
ZAID BIN HARITSAH
Sesuai
perintah Rasulullah, pasukan Islam dipimpin Zaid bin Haritsah dengan bendera di
tangannya. 3.000 pasukan Islam melawan 200.000 tentara Romawi jelas tak
seimbang. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak
Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar assaabiquunal awwalun tumpah di bumi Mu’tah.
Andaikan memiliki air mata, tanah di sana sudah menangis sejak tubuh mulia itu
terjatuh. Zaid tergeletak sudah. Syahid
KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA
JA’FAR BIN ABU THALIB
Melihat
Zaid jatuh, Ja’far bin Abu Thalib segera melompat dari punggung kudanya yang
kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat
dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera
komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai
tanda pimpinan kini beralih kepadanya
Ja’far
bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Beliau maju ke
tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul
rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya sampai akhirnya, pasukan musuh dapat
mengepung dan mengeroyoknya. Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di
tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan
dan kiri dengan hebat sambil bersenandung:
Wahai
… surga nan nikmat sudah mendekat
Minuman
segar, tercium harum
Tetapi
engkau Rum … Rum….
Menghampiri
siksa
Di
malam gelap gulita, jauh dari keluarga
Tugasku
… menggempurmu ..
Sampai
suatu ketika, ada seorang pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga
putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. Lalu bendera dipegang
tangan kirinya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar.
Tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang
tersisa hanyalah sedikit lengan bagian atas. Dalam kondisi demikian, semangat
beliau tidak surut, Ja’far tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara
memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Ada diantara mereka yang menyerang Ja’far dan
membelah tubuhnya menjadi dua.
Berdasarkan
keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut
serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan
beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.
KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA
ABDULLAH BIN RAWAHAH
Moejahid
Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah menerjang ke muka
dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang
setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya
atas hidup mati pasukannya, setelah terlihat kehebatan tentara romawi seketika
seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya
sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan
melenyapkan semua
kekhawatiran
dari dirinya, sambil berseru:
“Aku
telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi
kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai
diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah
kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah
waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika
kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”
(Maksudnya,
kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Jika
kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!”
Ia
pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya
akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga
dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah
tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Alloh, maka
naiklah ia sebagai syahid.
Jasadnya
jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha
Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya: “Hingga dikatakan,
yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah
Subhanahu wa Ta’ala, dan benar ia telah terpimpin!” “Benar engkau, ya Ibnu
Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!”
KABAR SYAHIDNYA PARA
KOMANDAN PERANG MU’TAH SAMPAI KE RASULULLAH
Selagi
pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa Sallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah
sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang
tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau
mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata
yang jatuh disebabkan rasa duka… ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para
shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata:
“Panji
perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur
sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula
bersamanya sampai syahid pula.”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya
ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia
bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula”.
Kemudian
Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan
kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : “Mereka bertiga
diangkatkan ke tempatku ke syurga …”
Para
sahabat di sisi Rasulullah juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata.
Tangis duka. Tangis kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik. Kehilangan
pahlawan-pahlawan pemberani. Namun bersamaan dengan tangis itu juga ada kabar
gembira bagi mereka. Bahwa ketiga orang itu kini disambut para malaikat dengan
penuh hormat, dijemput para bidadari, dan mendapati janji surga serta ridha
Ilahi. Secara khusus kepada Ja’far bin Abu Thalib yang terbelah tubuhnya, ia
dijuluki dengan Ath-Thayyar (penerbang) atau Dzul-Janahain (orang yang memiliki
dua sayap) sebab Allah menganugerahinya dua sayap di surga, dan dengan sayap
itu ia bisa terbang di surga sekehendaknya.
BERITA SYAHIDNYA JA’FAR
DISAMPAIKAN LANGSUNG OLEH RASULULLAH KEPADA KELUARGA JA’FAR
Rasulullah
pun pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap
menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak,
memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.
Asma’
bercerita,
“Ketika
Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih.
Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku
takut mendengar berita buruk.”
Rasulullah
memberi salam dan menanyakan anak-anak Ja’far dan menyuruh mereka ke hadapan
Rasulullah.
Asma’
kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak
Ja’far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan
untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada
anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi
pipi mereka.
Asma’
bertanya,
“Ya
Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far
dan kedua sahabatnya?”
Beliau
menjawab, “Ya, mereka telah syahid hari ini.”
Mendengar
jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah
mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat
masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.
Rasulullah
berdoa sambil menyeka air matanya,
“Ya
Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya… Ya Allah, gantilah Ja’far bagi
istrinya.”
Kemudian
beliau bersabda,
“Aku
melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran
darah dan bertanda di kakinya.”
STRATEGI PERANG KHALID BIN
WALID
khalid
bin Walid - Sword of Allah
Tsabit
bin Arqam mengambil bendera komando yang telah tak bertuan itu dan berteriak
memanggil para shahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum
muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid
Khalid
bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan
sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi,
ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu mengganti formasi pasukan
setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang
berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun
sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin
mendapat bantuan tambahan pasukan baru.
Selain
itu, khalid bin Walid mengulur-ulur waktu peperangan sampai sore hari karena
menurut aturan peperangan pada waktu itu, peperangan tidak boleh dilakukan pada
malam hari. Khalid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada
pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan
menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan
bantuan yang datang dengan membuat debu-debu berterbangan.
Pasukan
musuh yang menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim
benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa kemarin dengan
3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan.
Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari
medan pertempuran.
Pasukan
Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari,
karena dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.
HASIL PERANG Mu’tah
Ibnu
Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pertempuran ini berakhir imbang. Hal
karena kedua belah pasukan sama-sama menarik mundur pasukannya yang lebih
dahulu dilakukan oleh Romawi. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dalam
pertempuran ini kemenangan berada di tangan pasukan Muslimin.
Imam
Ibnu katsir mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wa
Ta’ala melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin
dengan berkata,
“Ini
kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan
dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang
berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari
Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya,
hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin, padahal, jumlah korban
tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.”
Sebenarnya
tanpa ada justifikasi kemenanganpun akan diketahui ada dipihak siapa.
Keberanian pasukan yang hanya berjumlah 3.000 dengan gagah berani menghadapi
dan dapat mengimbangi pasukan yang sangat besar dan bersenjata lebih canggih
dan lengkap cukup menjadi bukti. Bahkan jika menghitung jumlah korban dalam
perang itu siapapun akan langsung mengatakan bahwa umat islam menang. Mengingat
korban dari pihak muslim hanya 12 orang (al-Bidayah wan Nihayah (4/214)).
Menurut riwayat Ibnu Ishaq 8 orang, sedang dalam kitab as-Sîrah ash-Shahîhah
(hal.468) 13 orang) sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20.000 orang.
Menurut
Imam Ibnu Ishaq – imam dalam ilmu sejarah Islam –, syuhada perang Mu’tah hanya
berjumlah 8 sahabat saja. Secara terperinci, yaitu (1) Ja’far bin Abi Thalib,
dan mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (2) Zaid bin Haritsah
Al-Kalbi, (3) Mas’ud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah Al-Adawi, (4) Wahb
bin Sa’d bin Abi Sarh. Sementara dari kalangan kaum Anshar, (5) Abdullah bin
Rawahah, (6) Abbad bin Qais Al-Khazarjayyan, (7) Al-Harits bin an-Nu’man bin
Isaf bin Nadhlah an-Najjari, dan (8) Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa
Al-mazini.
Di
sisi lain, Imam Ibnu Hisyam dengan berlandaskan keterangan Az-Zuhri,
menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, (9) Abu Kulaib dan (10) Jabir. Dua
orang ini saudara sekandung. Ditambah Amr bin Amir putra Sa’d bin Al-Harits bin
Abbad bin Sa’d bin Amir bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha. Mereka juga berasal
dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.
Perang
ini adalah perang yang sangat sengit meski jumlah korban hanya sedikit dari
pihak muslim. Di dalam peperangan ini Khalid Radhiyallâhu ‘anhu telah
menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan
dari Khalid sendiri bahwa ia berkata:
“Dalam
perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang
kecil dari Yaman.” (HR. Al-Bukhari 4265-4266)
Ibnu
Hajar mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak
membunuh musuh mereka.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang
yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi
golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah?
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249).
Demikianlah artikel kami tentang Sejarah Perang Mu’Tah (3.000 Pasukan Muslim Vs 200.000 Pasukan Romawi) yang sempat kami bawakan dan jangan lupa juga untuk menyimak artikel kami yang lain tentang Sejarah Terjadinya Perang Badar.