Sejarah Lengkap Kisah Nabi Musa AS - Dalam keselarasan
dari terciptanya nabi Adam AS sampai nabi yang terakhir yaitu ummulul mu’minin
Muhammad SAW, ter dapat 25 nabi yang patut kita ketahui, tapi hanya empat nabi
yang mendapat wahyu dari ALLAH SWT, seperti nabi Musa AS mendapatkan kitab
TAURAT, nabi Daud AS mendapatkan kiaab ZABUR, dan nabi ISA AS mendapatkan kitab
INJIL, dan nabi akhirul zaman yaitu nabi Muhammad SAW dengan kitab sucinya
AL-QURAN dan ditambah lagi dengan
perilaku yang terpujinya disebutkan dari berbagai hadist shoheh.
![]() |
Kisah Nabi Musa AS |
A. Kisah Nabi Musa As
Nabi
Musa AS diutus untuk berdakwah di negeri Mesir, dan mengajak Bani Israil
menyembah Allah SWT. Musa dan Harun adalah keturunan ke-4 dari Nabi Ya'qub AS
yang tinggal di Mesir sejak Nabi Yusuf berkuasa disana. Mesir saat itu dikuasai
oleh Fir'aun. Penduduknya terdiri dari 2 bangsa, yaitu penduduk asli
Mesir yang disebut sebagai orang Qubti, dan orang Israil, yaitu
keturunan Nabi Ya'qub AS. Kebanyakan
orang Qubti menduduki jabatan-jabatan tinggi, sedang orang Israil hanya
berkedudukan rendah, seperti buruh, pelayan dan pesuruh. Firaun memerintah
dengan tangan besi. Ia diktator bengis yang tidak berperi kemanusiaan. Mabuk
dan rakus kekuasaan, sampai-sampai ia berani menyebut dirinya sebagai Tuhan.
B.
Kekejaman Fir'aun membunuh bayi laki-laki
Suatu
ketika, Fir'aun bermimpi, yang oleh dukun peramalnya mimpi itu diartikan dengan
akan lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas
kekuasaan raja. Seketika itu Fir'aun menginstruksikan seluruh pasukannya untuk
membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Ibu Musa, Yukabad, istri Imron
bin Qahat bin Lewi bin Ya'qub AS, merasa sangat gelisah karena begitu
ketatnya penyelidikan para petugas. Suatu ketika ibu Musa mendapat petunjuk
melalui mimpinya agar anaknya yang berusia 3 bulan dimasukkan ke dalam kotak
lalu dihanyutkan ke sungai Nil. Allah SWT menjamin bahwa bayinya pasti
akan selamat, bahkan Yukabad kelak tetap akan dapat merawatnya.
![]() |
ilustrasi pembuangan bayi nabi musa as |
Isyarat
itu dilaksanakan dengan penuh ketabahan dan tawakal. Kakak Musa diperintahkan
untuk mengikuti kemana peti itu hanyut dan di tangan siapakah Musa nanti
ditemukan. Kotak yang berisi bayi itu tiba-tiba tersangkut di pohon dan
berhenti di belakang rumah Fir'aun. Puteri Fir'aun menemukan peti tsb, dan ia
adalah seorang yang berpenyakit belang. Ketika menyentuh Musa, mendadak
penyakitnya sembuh. Dengan perasaan gembira ia membawa peti itu kepada Asiah,
istri Fir'aun, dan memberitahu apa yang telah terjadi. Asiah mengambil bayi itu
dan berniat untuk memeliharanya.
Asiah
adalah seorang yang beriman kepada Allah SWT. Namun lantaran takut oleh
kekejaman Fir'aun, ia menyembunyikan keimanannya. Ketika itu Fir'aun mendengar
adanya wanita cantik bernama Asiah, dan ia pun menikahinya. Namun tatkala ia
hendak menggauli istrinya itu, seluruh badannya tiba-tiba menjadi kaku sehingga
ia pun tidak bisa mendekatinya, hanya bisa memandangnya.
Fir'aun
merasa curiga terhadap bayi yang ditemukan istrinya, tetapi Asiah tetap
bersikeras untuk memeliharanya karena ia sudah lama mendambakan anak. Bayi itu
oleh Asiah diberi nama Musa, yang artinya air dan pohon (mu =
air, sa = pohon). di antara sejumlah inang pengasuh pilihan Asiah, bayi
Musa hanya mau menyusu pada Yukabad, sehingga Asiah akhirnya menerima Yukabad
sebagai inang pengasuh Musa. Dengan demikian janji Allah SWT bahwa Yukabad
tetap akan mendapatkan kembali bayinya terpenuhi.
Kisah
ini dapat ditemui dalam surat Al-Qasas: 4-13.
C.
Musa meninggalkan Mesir
Setelah selesai masa penyusuan
bersama ibunya, Musa dikembalikan lagi ke istana Fir'aun. Ia dipelihara
sebagaimana anak-anak raja yang lain. Berpakaian seperti Fir'aun, mengendarai
kendaraan Fir'aun, sehingga ia dikenal sebagai Pangeran Musa bin Fir'aun. Walaupun
dididik dalam tradisi istana, sejak kecil Musa memahami bahwa ia bukan anak
Fir'aun melainkan keturunan Bani Israil yang tertindas. Karena prihatin
terhadap nasib rakyat yang dianiaya oleh keluarga raja dan para pembesar
kerajaan, Musa bertekad untuk membela kaumnya yang lemah.
Suatu saat tindakan Musa membela
seorang anggota kaumnya yang berkelahi melawan seorang dari golongan Fir'aun
menyebabkan yang terakhir ini tewas. Seorang saksi yang melihat kejadian itu
lalu melaporkan pada Fir'aun. Mengetahui bahwa Musa membela orang Israil,
Fir'aun segera memerintahkan orang untuk menangkap Musa. Akhirnya Musa
melarikan diri dan memutuskan untuk meninggalkan Mesir. Ia bertaubat dan
memohon ampun kepada Allah. Saat itu ia berusia 18tahun. Kisah ini terdapat dalam surat Al-Qasas:
14-21.
Musa pergi ke Madyan, kota
tempat tinggal Nabi Syu'aib AS. Dari Mesir ke Madyan harus ditempuh berjalan
kaki selama 8 hari. Karena kelelahan dan merasa lapar, Musa beristirahat di
bawah pepohonan. Tak jauh dari tempatnya beristirahat, ia melihat dua orang
gadis berusaha berebut untuk mendapatkan air di sumur guna memberi minum ternak
yang mereka gembalakan. Kedua gadis itu berebutan dengan sekelompok pria-pria
kasar yang tampak tidak mau mengalah. Melihat
itu, Musa segera bergerak menolong kedua gadis tsb. Laki-laki kasar tadi
mencoba melawan Musa, tapi Musa dapat mengalahkan mereka.
D.
Musa menikah
Kedua
gadis ini tak lain adalah putri-putri Nabi Syu'aib AS. Mereka lalu melaporkan
kejadian yang telah dialami bersama Musa kepada ayah mereka. Syu'aib lalu
menyuruh kedua putrinya untuk mengundang Musa datang ke rumah mereka. Musa
memenuhi undangan itu. Keluarga Syu'aib sangat senang melihat Musa. Sikapnya
sopan dan tampak sekali ia seorang pemuda bermartabat dari kalangan bangsawan.
Kepada Syu'aib, Musa menceritakan peristiwa pembunuhan yang telah dilakukannya,
yang menyebabkan ia terusir dari Mesir. Syu'aib menyarankan agar ia tetap
tinggal di rumahnya agar terhindar dari kejaran orang-orang Fir'aun.
Syu'aib
bermaksud menikahkan Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai syarat mas
kawin, Musa diminta bekerja menggembalakan ternak-ternak milik Nabi Syu'aib
selama 8 tahun. Musa menyanggupi syarat tsb, bahkan ia menggenapkan masa kerjanya
menjadi 10 tahun. Ia menjalani pekerjaannya dengan sabar. Selama itu, nampaklah
oleh keluarga Syu'aib bahwa Musa adalah pemuda yang kuat, perkasa, jujur dan
dapat diandalkan. Tak salah jika Nabi Syu'aib mengambilnya sebagai
menantu. Musa sangat bahagia hidup
bersama istrinya. Nabi Syu'aib juga lega karena anaknya mendapat pelindung yang
dapat dipercaya. Kisah tentang hal ini terdapat dalam surat Al-Qasas:
22-28.
E.
Musa kembali ke Mesir
Sepuluh
tahun setelah meninggalkan Mesir, Musa berniat kembali ke sana bersama
istrinya. Musa sadar, tidak mustahil bahwa orang-orang Mesir masih akan
mencarinya, oleh sebab itu ia dan istrinya tidak berani melalui jalan biasa
melainkan memilih jalan memutar. Sampai suatu malam, mereka tersesat tak tahu
arah mana yang harus ditempuh untuk meneruskan perjalanan ke Mesir. Saat itulah
Musa melihat ada cahaya api terang benderang di atas sebuah bukit. Musa berkata
kepada istrinya, "Tunggu disini, aku akan mengambil api itu untuk
menerangi jalan kita."Tatkala Musa menghampiri api tsb, tiba-tiba
terdengar suara menyeru, "Hai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka
tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah suci Thuwa.
Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan
kepadamu. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka
sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku."
Inilah
wahyu pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa AS. Dengan diterimanya
wahyu ini, maka Musa telah diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Sebagai rasul,
Allah SWT memberinya mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan
tangannya yang dapat bersinar putih cemerlang setelah dikepitkan di ketiaknya. Kisah ini dapat dilihat pada surat Tâhâ:
9-23.
Allah
SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk berdakwah kepada Fir'aun. Musa masih
merasa takut karena dulu ia pernah membunuh orang Mesir, namun Allah
menjanjikan perlindungan untuknya, maka tentramlah hatinya. Untuk lebih
memantapkan dakwahnya, Musa memohon kepada Allah agar ia ditemani oleh Harun,
saudaranya, karena Harun amat cakap dalam berbicara dan berdebat. Permintaan
Musa dikabulkan. Harun yang masih berada di Mesir digerakkan hatinya oleh Allah
sehingga ia berjalan menemui Musa. Hal tsb dinyatakan dalam surat Al-Qasas:
32-35 dan surat Tâhâ: 42-47.
Akhirnya
bersama-sama Harun, Musa menghadap Fir'aun. Ia mengadakan dialog dengan Fir'aun
tentang Tuhan. Namun Fir'aun menanggapinya dengan sinis dan mengejek Musa tak
tahu diri. Dulu ia diasuh dan dibesarkan di istana Mesir, tapi kini ia malah berbalik
menentang Fir'aun. Musa menjawab bahwa semua itu terjadi disebabkan karena ulah
Fir'aun sendiri. Seandainya Fir'aun tidak memerintahkan membunuh bayi
laki-laki, tidak mungkin ia dihanyutkan di sungai Nil sampai akhirnya ditemukan
dan diangkat anak oleh istri Fir'aun. Musa tidak merasa berhutang budi pada
Fir'aun.
Musa
mengatakan bahwa sesungguhnya Fir'aun bukanlah Tuhan. Ada Tuhan lain yang
berhak disembah, Tuhan nenek moyang mereka, Tuhan seluruh alam semesta. Fir'aun
sangat murka dan meminta Musa untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Tuhan.
F.
Keberhasilan Musa melawan ahli-ahli sihir Fir'aun
Di
depan masyarakat luas, Nabi Musa AS dapat menunjukkan mukjizatnya menghadapi
ahli-ahli sihir Fir'aun. Musa mempersilakan ahli-ahli sihir Fir'aun untuk mempertunjukkan
kebolehan mereka lebih dulu. Mereka lalu melemparkan tali dan
tongkat-tongkatnya. Tak lama kemudian tali-tali dan tongkat-tongkat itu berubah
menjadi ular yang ribuan ekor banyaknya. Fir'aun tertawa bangga menyaksikan
kebolehan para ahli sihirnya. Masyarakat yang hadir disana juga terkagum-kagum.
Dengan
tenang Musa melemparkan tongkatnya, tongkat itu segera berubah menjadi ular
yang sangat besar dan langsung melahap ular-ular para ahli sihir Fir'aun. Dalam
waktu singkat, ular-ular itu habis ditelan oleh ular Nabi Musa.
Para
ahli sihir itu terbelalak heran. Apa yang diperlihatkan Musa bukanlah seperti
sihir yang mereka pelajari dari syaitan. Sadar akan hal itu, para ahli sihir
tsb berlutut kepada Musa, dan menyatakan diri sebagai pengikut ajaran yang
dibawanya. Mereka bertaubat dan hanya akan menyembah Allah saja. Kisah ini dijelaskan dalam surat Asy-Syu'arâ':
18-51.
Fir'aun
sangat murka melihat pembelotan para ahli sihir yang telah bertaubat itu. Ia
mengancam akan menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat kejam, namun para
ahli sihir itu tetap memilih menjadi pengikut Musa. Akhirnya Fir'aun
memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki mereka, serta menyalib mereka di
batang pohon kurma. Mereka pun menerimanya dengan sabar dan tetap beriman kepada
Allah. Jumlah mereka saat itu 70 orang.
G.
Azab bagi Fir'aun dan pengikutnya
Kejengkelan
Fir'aun memuncak setelah Nabi Musa AS memperoleh pengikut yang lebih banyak.
Fir'aun menjadi semakin kejam terhadap Bani Israil. Nabi Musa AS senantiasa
menyuruh kaumnya untuk bersabar menghadapi kesewenang-wenangan Fir'aun. Fir'aun
pun tak henti-hentinya mengejek dan menghina Musa.
Karena
semakin lama tindakan Fir'aun makin merajalela, Nabi Musa AS berdoa kepada
Allah SWT agar Fir'aun dan pengikutnya diberi azab. Allah SWT mengabulkan doa
Musa. Kerajaan Fir'aun dilanda krisis keuangan. Selain itu wilayah Mesir
dilanda kemarau panjang. Banyak panen yang gagal, tanaman dan pepohonan banyak
yang mati, disusul badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka. Jutaan
belalang berdatangan menyerbu hewan dan perkebunan, juga kutu dan katak.
Setelah kemarau, muncul banjir besar. Akibat banjir itu kemudian juga muncul
wabah penyakit. Anak laki-laki bangsa Mesir mendadak mati, tak terkecuali
anak-anak Fir'aun sendiri, termasuk putra mahkota.
Pengikut
Fir'aun mendatangi Nabi Musa AS untuk memohon agar azab itu dicabut dari mereka
dengan janji mereka akan beriman. Namun ketika Allah SWT mengabulkan permintaan
itu, mereka ingkar terhadap janjinya. Riwayat
ini terdapat dalam surat Al-Mu'minûn: 26, Az-Zukhruf: 51-54, Yûnus:
88-89, dan Al-A'râf: 130-135.
H.
Peristiwa Laut Merah terbelah
Bani
Israil yang makin menderita karena ulah Fir'aun dan pengikutnya meminta Nabi
Musa AS untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Setelah mendapat wahyu dari Allah
agar mengajak kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Musa lalu membawa kaumnya ke Baitulmakdis.
Mereka pergi secara diam-diam di malam hari. Ketika sampai di tepi Laut Merah,
mereka baru menyadari bahwa tentara Fir'aun mengejar mereka. Para pengikut Musa
sangat panik karena tidak bisa lari kemana pun. Saat itulah turun wahyu agar
Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Laut pun membelah hingga terbentang jalan
bagi Musa dan pengikutnya untuk menyeberang. Fir'aun dan tentaranya mengejar
rombongan itu, namun ketika Musa dan pengikutnya telah sampai di tepi sementara
Fir'aun dan tentaranya masih di tengah laut, atas perintah Allah laut pun
kembali menutup hingga Fir'aun dan pasukannya tenggelam.
Di
saat-saat terakhir menjelang kematiannya, Fir'aun sempat bertaubat dan
menyatakan diri beriman kepada Allah. Namun taubat menjelang ajal yang
dilakukan oleh Fir'aun itu sudah terlambat dan tidak lagi diterima oleh Allah,
sehingga matilah ia dalam keadaan tetap kafir.Kisah tentang ini terdapat dalam
surat Tâhâ: 77-79, Asy-Syu'arâ: 60-68, dan Yûnus: 90-92. Ternyata,
mayat Fir'aun tetap utuh sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Yûnus:
92, sebagai tanda bagi umat yang kemudian. Ini telah terbukti dengan
diketemukannya mummi Fir'aun (Pharaoh) di Mesir pada abad ke-20 M.
I.
Karunia bagi Bani Israil
Dalam
perjalanan ke Mesir, Bani Israil sangat manja. Saat mereka haus, Musa
memukulkan tongkatnya ke batu. Dari batu tsb, memancarlah 12 mata air, sesuai
dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing suku memiliki
mata air sendiri. Di Gurun Sinai
yang panas terik, tak ada rumah untuk dihuni, tak ada pohon untuk berteduh,
maka Allah menaungi mereka dengan awan. Ketika
bekal makanan dan minuman mereka habis, mereka pun meminta Musa memohon pada
Allah SWT agar diberikan makanan dan minuman, maka Allah menurunkan kepada
mereka Manna dan Salwa. Manna adalah makanan yang turun dari
udara seperti turunnya embun, turun di atas batu dan daun pohon. Rasanya manis
seperti madu. Sedang Salwa adalah sejenis burung puyuh yang datang
berbondong-bondong silih berganti sampai-sampai hampir menutupi bumi lantaran
banyaknya.
Mendapat
karunia dan rezki yang demikian melimpahnya dari Allah, Bani Israil bukannya
bersyukur, malah mereka meminta makanan dari jenis yang lain lagi. Disinilah
mulai terlihat betapa Bani Israil itu sangat kufur terhadap nikmat Allah. Berbagai
tuntutan dan permintaan dari Bani Israil ini diceritakan dalam surat Al-A'râf:
160 dan Al-Baqarah: 61.
J.
Turunnya kitab Taurat
Setelah persoalan dengan Fir'aun
selesai, Nabi Musa AS memohon untuk diberikan kitab suci sebagai pedoman. Allah
SWT lalu memerintahkan Nabi Musa AS untuk berpuasa selama 30 hari dan pergi
berkhalwat ke Bukit Thur Al-Aiman atau Thursina. Sebelum pergi,
Musa meminta Harun menjadi wakilnya untuk mengurus kaumnya.
Setelah berpuasa selama 30 hari,
Allah memerintahkannya berpuasa 10 hari lagi untuk menggenapkan ibadahnya
menjadi 40 hari. Setelah itu Allah berbicara kepadanya dengan Kalam-Nya yang
Azali, sehingga Musa pun memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia
lain. Dalam kesempatan bermunajat di Bukit Thursina ini, timbul
kerinduan Musa untuk bertemu Allah SWT. Ia pun meminta agar Allah SWT
mengizinkan dirinya untuk melihat Zat-Nya. Allah SWT mengatakan bahwa ia telah
meminta sesuatu yang diluar kesanggupannya. Allah SWT kemudian menyuruh Musa
untuk melihat ke sebuah bukit. Allah akan menampakkan wujudnya kepada bukit
itu. Jika bukit itu tetap tegak berdiri, maka Musa dapat melihat-Nya, namun
jika bukit yang lebih besar darinya itu tak mampu bertahan, maka lebih-lebih
lagi dirinya. Ketika Musa mengarahkan pandangan ke bukit tsb, seketika itu juga
bukit itu hancur luluh. Melihat itu Musa merasa terkejut dan ngeri, ia pun
jatuh pingsan.
Setelah sadar, ia bertasbih dan
bertahmid seraya memohon ampun kepada Allah SWT atas kelancangannya.
Selanjutnya, Allah SWT memberikan kitab Taurat sebagai kitab suci yang
berupa kepingan-kepingan batu. Di dalamnya tertulis pedoman hidup dan penuntun
beribadah kepada Allah SWT. Kisah munajat Nabi Musa AS di Bukit Thursina ini
diceritakan dalam surat Al-A'râf: 142-145.
K.
Patung anak sapi
Sepeninggal Nabi Musa AS, Bani
Israil dihasut oleh seorang munafik bernama Samiri. Karena keyakinan
tauhid mereka yang memang belum terlalu tebal, dengan mudah mereka termakan
hasutan Samiri. Bani Israil membuat patung anak sapi yang disembah sebagai
tuhan mereka.
Sebelum
pergi ke bukit Thursina, Musa berkata kepada kaumnya bahwa ia akan meninggalkan
mereka tidak lebih dari 30 hari. Ketika Allah memerintahkannya untuk menambah
ibadahnya 10 hari lagi sehingga bertambah lama kepergiannya, maka mereka
menganggapnya telah melupakannya. Samiri mengatakan kepada Bani Israil bahwa
keterlambatan Musa ini disebabkan karena mereka telah membuat marah Tuhan
dengan mengambil perhiasan-perhiasan dari kuburan orang-orang Mesir. Maka untuk
meminta ampun kepada Tuhan dan agar Musa mau kembali pada mereka, mereka harus
melemparkan perhiasan-perhiasan tsb ke dalam api.
Mereka
pun percaya dengan hasutan Samiri. Para wanita-wanita Bani Israil lalu
melemparkan perhiasan-perhiasan emas mereka ke dalam api. Dari emas yang
terkumpul itu Samiri lalu membuat patung anak sapi. Dengan teknik khusus, ia
membuat angin bisa masuk dan menimbulkan suara dari mulut patung itu sehingga
seolah-olah patung itu dapat berbicara. Kemudian Samiri menyuruh Bani Israil
untuk menyembahnya.
Nabi
Harun AS tidak berdaya menghadapi kaumnya yang kembali murtad itu. Ketika Nabi
Musa AS kembali, ia sangat marah dan bersedih hati melihat perilaku kaumnya.
Mula-mula ia pun marah kepada Harun yang dianggapnya tidak bisa menjaga kaumnya
dengan baik, namun setelah mendengar penjelasan dari Harun, ia pun tenang
kembali. Ia mengusir Samiri dan menjelaskan pada kaumnya tentang perbuatan
mereka yang salah. Sebagai hukuman, Samiri diberi kutukan oleh Allah, jika ia
disentuh atau menyentuh manusia, maka badannya akan menjadi panas demam. Itulah
azab Samiri di dunia, seumur hidupnya ia tidak bisa berhubungan dengan siapa
pun.
Setelah
Samiri pergi, Musa membakar patung anak sapi sembahan Bani Israil dan membuang
abunya ke laut. Allah SWT kemudian memerintahkan Musa AS agar membawa
sekelompok kaumnya untuk memohon ampun atas dosa mereka menyembah patung anak
sapi. Musa mengajak 70 orang terpilih dari Bani Israil ke Bukit Thursina.
Setelah mereka berpuasa menyucikan diri, muncullah awan tebal di bukit itu.
Nabi Musa AS dan rombongannya memasuki awan gelap itu dan bersujud. Ketika
bersujud, 70 orang itu mendengar percakapan antara Nabi Musa AS dengan Allah
SWT. Timbul keinginan mereka untuk melihat Zat Allah. Bahkan mereka menyatakan
tidak akan beriman sebelum melihat-Nya. Seketika itu pula tubuh mereka
tersambar halilintar hingga mereka pun tewas.
Nabi
Musa AS memohon agar kaumnya diampuni dan dihidupkan kembali. Maka Allah SWT
pun membangkitkan kembali 70 orang pengikut Musa itu. Musa lalu menyuruh mereka
bersumpah untuk berpegang teguh pada kitab Taurat sebagai pedoman hidup, dan
beriman kepada Allah SWT. Cerita ini terdapat dalam Al Qur'an surat Al-A'râf:
149-155 dan Al-Baqarah: 55, 56, 63, 64.
L. Sapi Betina (Al Baqarah)
Suatu
hari terjadi peristiwa pembunuhan di antara kaum Nabi Musa. Untuk mengetahui
siapa pembunuh orang tsb, atas petunjuk Allah SWT, Musa memerintahkan kaumnya
untuk mencari seekor sapi betina. Dengan lidah sapi itu nantinya mayat yang terbunuh
akan dipukul dan akan hidup lagi atas kehendak dan izin dari Allah SWT.
Kaum
Bani Israil sebenarnya enggan melaksanakan perintah ini, karenanya mereka
sangat cerewet dan banyak bertanya dengan harapan supaya Allah SWT akhirnya
membatalkannya, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur'an surat Al-Baqarah:
67-71.
Dan
(ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya Allah menyuruh
kamu menyembelih seekor sapi betina. Mereka berkata: Apakah kamu hendak
menjadikan kami buah ejekan? Musa menjawab: Aku berlindung kepada Allah agar
tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil. (QS. 2:67)
Mereka
menjawab: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada
kami, sapi betina apakah itu? Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa
sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara
itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. (QS. 2:68)
Mereka
berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami
apa warnanya. Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu
adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan
orang-orang yang memandangnya. (QS. 2:69)
Mereka
berkata: Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami
bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar
bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk
memperoleh sapi itu). (QS. 2:70)
Musa
berkata: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi
tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata: Sekarang barulah
kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. Kemudian mereka menyembelihnya
dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)
Nama
surat Al-Baqarah yang berarti sapi betina diambil karena dalam
surat ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina. Dapat dilihat pada
ayat-ayat tsb bahwa sikap Bani Israil yang cerewet justru telah menyulitkan
mereka sendiri. Seandainya ketika diperintahkan pertama kali mereka langsung
melaksanakannya, tentulah mereka tidak akan repot, tetapi mereka malah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang rumit sehingga hampir saja mereka tidak
dapat menemukan sapi sesuai ciri-ciri yang diterangkan oleh Musa.
Begitu
sapi sudah diperoleh, mereka lalu menyembelihnya dan lidah sapi itu dipukulkan
ke tubuh mayat orang yang terbunuh. Seketika itu ia menjadi hidup kembali dan
menceritakan bahwa ia telah dibunuh oleh sepupunya sendiri.
M.
Allah mengharamkan tanah Palestina bagi Bani Israil
Allah
SWT memerintahkan Nabi Musa AS membawa kaumnya ke Palestina, tempat suci
yang telah dijanjikan bagi Nabi Ibrahim AS sebagai tempat tinggal anak cucunya.
Bani Israil yang telah mendapat berbagai karunia dari Allah SWT adalah kaum
yang keras kepala dan tidak bersyukur.
Sebelum
mengajak kaumnya berhijrah, Musa mengutus perintis jalan untuk menyelidiki
tentang penduduk penghuni Palestina. Ketika kembali, para perintis jalan itu
mengabarkan bahwa tanah suci tsb dihuni oleh suku Kana'an yang
kuat-kuat, dan kota-kotanya memiliki benteng yang kokoh. Mengetahui hal itu,
merasa gentarlah Bani Israil dan tidak mau mematuhi perintah Musa untuk
menyerang. Mereka hanya mau kesana jika suku itu telah disingkirkan terlebih
dahulu.
Nabi
Musa AS sangat marah terhadap sikap kaumnya itu, karena sikap tsb mencerminkan
bahwa mereka belum benar-benar beriman kepada Allah SWT, padahal Allah SWT
telah berjanji bahwa dengan pertolongan-Nya mereka akan mampu mengalahkan suku
Kana'an. Di antara Bani Israil itu, ada 2 orang bertakwa yang menasihati mereka
agar masuk dari pintu kota supaya mereka bisa menang. Akan tetapi Bani Israil
menolak nasihat itu dan melontarkan kepada Musa kalimat yang menunjukkan
pembangkangan dan sifat pengecut, "Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan
berperanglah, sementara kami menunggu di sini."
Habislah
kesabaran Musa. Ia lalu memanjatkan doa agar Allah SWT memberikan putusan-Nya
atas sikap kaumnya. Sebagai hukuman bagi Bani Israil yang menolak perintah
Allah SWT, Allah SWT mengharamkan wilayah Palestina selama 40 tahun bagi
mereka. Mereka akan tersesat, padahal tanah yang dijanjikan sudah ada di depan
mata. Selama itu mereka akan berkeliaran di muka bumi tanpa memiliki tempat
bermukim yang tetap.
Hal
ini dikisahkan dalam surat Al-Maidah: 20-26.
N.
Pertemuan Musa dengan orang saleh
Pada
suatu kesempatan berkhutbah di hadapan kaumnya, Nabi Musa AS mengatakan bahwa
dirinyalah yang paling pandai dan berpengetahuan. Allah SWT menegur sikapnya
ini dan berfirman, "Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di tepi laut
yang lebih pandai darimu." Berkatalah
Musa, "Wahai Tuhanku, apa yang harus kuperbuat untuk bertemu
dengannya?" Allah berfirman,
"Ambillah seekor ikan kecil dan letakkan di dalam keranjang. Dimanapun
engkau kehilangan ikan itu, maka disitulah ia berada."
Musa
melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Ia mengambil seekor
ikan kecil, kemudian ia pergi dengan ditemani seorang sahayanya. Saat mereka
tiba di pertemuan antara dua buah laut, mereka duduk sejenak untuk
beristirahat. Tertidurlah mereka, sementara saat itu turun hujan sehingga ikan
yang mereka bawa dapat melompat dan meluncur ke laut.
Sahaya
Musa mengetahui hal ini, namun ia lupa memberitahukannya kepada Musa. Mereka
terus melanjutkan perjalanan. Ketika mereka merasa lapar dan hendak makan, saat
itulah sahaya Musa teringat akan ikan yang hilang itu, maka ia pun memberitahu
Musa. Mendengar itu Musa sangat gembira. "Inilah yang kita cari. Mari kita
kembali untuk mengikuti jejak dimana ikan itu hilang."
Belum
sampai di tempat yang dituju, Musa telah bertemu dengan orang yang dimaksud.
Hamba Allah SWT yang saleh itu dikenal dengan nama Nabi Khidir AS. Nabi
Musa AS yang ingin belajar dari hamba-Nya yang saleh itu meminta agar diizinkan
mengikuti Nabi Khidir. Nabi Khidir menjawab bahwa ia tidak akan dapat sabar
atas keikutsertaannya, karena ia akan melihat tindakan-tindakan yang
bertentangan dengan syariatnya. Namun Musa berkata bahwa ia akan bersabar dan
tidak akan menentang urusan Nabi Khidir. Akhirnya Nabi Khidir mengizinkan Musa
untuk mengikutinya, namun dengan syarat bahwa Musa tidak boleh mempertanyakan
tindakan-tindakan yang akan dilakukannya, karena pada akhirnya ia akan
menceritakan rahasia di balik tindakan-tindakannya itu.
Pergilah
Musa bersama Nabi Khidir menyusuri tepi laut. Tiba-tiba lewat di depan mereka
sebuah kapal, maka keduanya meminta kepada penumpang-penumpangnya untuk
mengangkut mereka. Mereka diizinkan menumpang, lalu keduanya pun naik ke kapal
itu. Saat para penumpang lengah, Nabi Khidir melubangi dinding kapal yang
terbuat dari kayu itu sedemikian rupa sehingga kerusakannya akan mudah untuk
diperbaiki. Musa yang melihat kejadian ini merasa ngeri dan tanpa sadar ia lupa
dengan perjanjiannya untuk tidak mengajukan pertanyaan apa pun, maka ia pun
berkata, "Apakah engkau merusak kapal orang-orang yang telah menghormati
kita? Engkau telah melakukan sesuatu yang tercela."
Nabi
Khidir mengingatkan kepada Musa akan perjanjian mereka, maka sadarlah Musa, ia
meminta supaya jangan dihukum atas kelupaannya ini. Keduanya lalu meneruskan
perjalanan dan bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain bersama
kawan-kawannya. Nabi Khidir lalu membujuk anak itu ikut dengannya dan
membawanya ke tempat yang agak jauh dari teman-temannya, lalu ia membunuhnya.
Panas hati Musa melihat perbuatan yang keji ini sehingga dengan marah ia
berkata, "Apakah engkau membunuh jiwa yang suci bersih tanpa dosa? Engkau
telah berbuat sesuatu yang mungkar. "Nabi Khidir kembali mengingatkan Musa
akan syarat yang berlaku antara keduanya. Musa menyesal atas ketidaksabarannya.
Ia pun berkata, "Jika setelah ini aku bertanya lagi kepadamu, maka
janganlah menemani aku, karena sudah cukup alasan bagiku untuk berpisah denganmu."
Kemudian
keduanya pun meneruskan perjalanan kembali. Saat merasa haus dan lapar,
masuklah mereka ke sebuah desa. Mereka meminta kepada penghuninya supaya
bersedia memberi mereka makan dan menjadikan mereka sebagai tamu, namun
permintaan mereka ini ditolak dengan kasar oleh penghuni desa tsb. Dalam perjalanan pulang, mereka mendapati
sebuah dinding yang hampir roboh. Nabi Khidir lalu memperbaiki dinding yang
roboh itu dan mendirikan bangunannya. Melihat ini, Musa tidak tahan lalu
bertanya, "Apakah engkau mau membalas orang-orang yang telah mengusir kita
dengan memperbaiki dinding rumah mereka? Andaikata engkau kehendaki, engkau
bisa meminta upah atas pekerjaanmu untuk membeli makanan."
Dengan
timbulnya pertanyaan Musa ini, maka berpisahlah ia dengan Nabi Khidir. Namun
sebelum berpisah, Nabi Khidir menjelaskan rahasia-rahasia perbuatannya. Ia
berkata, "Mengenai kapal yang aku lubangi dindingnya, itu adalah kepunyaan
beberapa orang miskin yang tidak punya harta selain itu, dan aku mengetahui
bahwa ada seorang raja yang suka merampas setiap kapal yang baik dari
pemiliknya. Sebab itu aku merusaknya sedikit supaya nantinya mudah diperbaiki
lagi, dan bila raja melihatnya ia pun menduga kapal itu adalah kapal yang buruk
sehingga ia akan membiarkannya pada pemiliknya dan selamatlah kapal itu pada
mereka.
Mengenai
anak kecil yang aku bunuh, ia adalah seorang anak yang menampakkan tanda-tanda
kerusakan sejak kecil, sedang kedua orangtuanya adalah orang-orang yang beriman
dan saleh. Aku khawatir rasa kasih sayang orangtua terhadap anaknya akan
membuat mereka menyeleweng dari kesalehan mereka dan menjerumuskannya ke dalam
kekafiran dan kesombongan, maka aku pun membunuhnya untuk menenangkan kedua
orangtua yang beriman ini, dan anak yang jahat itu semoga akan diberi gantinya oleh
Allah SWT dengan anak yang lebih baik dan lebih berbakti serta lebih sayang
kepada kedua orangtuanya. Adapun dinding
rumah yang kudirikan, itu adalah milik dua anak yatim di kota itu yang di
bawahnya terdapat harta terpendam kepunyaan mereka, dan ayah mereka adalah
seorang yang saleh. Maka Tuhanmu yang Maha Pemurah ingin menjaga harta itu bagi
mereka sampai mereka dewasa dan mengeluarkannya. Semua yang kuperbuat itu bukanlah atas
usahaku, melainkan itu adalah wahyu dari Allah SWT. Dan inilah penjelasan dari
kejadian-kejadian yang mana engkau tidak bisa bersabar."
Kisah
pertemuan Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS ini terdapat dalam surat Al-Kahfi:
60-82.
O.
Kisah Qarun dan hartanya
Tersebutlah
seorang pengikut Nabi Musa AS yang sangat kaya, yang bernama Qarun.
Meskipun sangat kaya, namun ia tidak mau menyedekahkan hartanya bagi fakir
miskin. Nasihat-nasihat Nabi Musa AS tidak dipedulikannya, bahkan ia mengejek
dan memfitnah Nabi Musa AS.
Guna
memberi pelajaran pada Qarun dan memberi contoh pada kaumnya, Musa memanjatkan
doa agar Allah SWT menurunkan azabnya pada diri hartawan itu. Allah SWT lalu
memberi azab dengan menguburkan semua harta kekayaan beserta diri Qarun melalui
bencana tanah longsor yang dahsyat. Kisah
Qarun dan hartanya ini terdapat dalam surat Al-Qasas: 76-82.
Larangan
hari sabath
Sesuai
dengan syariat dalam Taurat, Nabi Musa menentukan hari Sabtu sebagai hari untuk
berkumpul dan beribadah. Pada hari itu kaum Bani Israil dilarang untuk
melakukan usaha apa pun, termasuk berniaga dan mencari ikan. Namun pada hari
Sabtu tsb justru ikan-ikan sangat banyak terlihat di laut. Sesungguhnya ini
merupakan kehendak Allah SWT untuk menguji keimanan dan ketaatan Bani Israil.
Ternyata mereka tidak tahan dengan ujian ini dan melanggar larangan hari
Sabath, oleh sebab itu Allah kemudian mengutuk sebagian mereka menjadi kera.
Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 65 dan Al-A'râf: 166.
Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah: 65 dan Al-A'râf: 166.