Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia - Pada
masa perjuangan perempuan sudah tidak asing lagi ditelingan kita nama-nama
pejuang-pejuang perempuan seperti Raden Ayu Ageng Serang, Cut Nyak Dien, Cut
Meutia, dan yang kita juga sangat mengenalnya dengan memperjuangkan emansipasi
dalam arti pembebasan diri melawan adat, kekolotan dan keterbelakangan, beliau
ialah Raden Ajeng Kartini.
![]() |
Sejarah Kartini |
RA. Kartini adalah Pelopor Pergerakan kaum wanita. R.A.
Kartini telah menjadi sejarah dalam keikutsertaan kaum hawa diberbagai bidang
kehidupan,baik non pemerintahan dan pemerintahan, R.A. Kartini sangat
diharumkan namanya terlihat dari tanggal lahirnya yang selalu diperangati oleh
berbagai kalangan bukan hanya kaum hawa tetapi kaum adam pun ikut serta dalam
memperingati hari pergerakan kaum wanita atau hari R.A.Karitini atau Hari ibu,
R.A. Kartini merupakan beberapa kaum atau salah satu kaum hawa yang sangat
memperjuangkan hak-hak perempuan atau kaum hawa untuk ikut serta dalam berbagai
bidang kehidupan dan karna R.A.Kartini berbagai kaum hawa dapat kerja
diberbagai bidang kehidupan, dan Setiap 21 April diperangati Hari ibu untuk
mengenang dan memperingati Pergerakan Kaum Wanita dan Perjuangan R.A. Karitini
sebagai pelopor Para Pergerakan kaum wanita.

Selain
Kartini, Dewi Sartika juga menjadi pelopor gerakan wanita di Jawa Barat. Ia
mendirikan sekolah Keutamaan Isteri untuk kaum wanita di Jawa Barat. Pelopor
gerakan wanita dari Minahasa adalah Maria Walanda Maramis yang belajar bahasa
Belanda dari suaminya, Yosef Walanda. Berkat pengetahuannya, ia sadar akan
nasib kaum wanita Minahasa yang jauh tertinggal. Maka pada tahun 1927, ia
berjuang dan berhasil mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak
Temurunnya).
Pada
masa-masa berikutnya, kesadaran wanita Indonesia untuk hidup lebih baik makin
terbuka lebar. Hal ini ditandai dengan keberadaan organisasi-organisasi wanita
yang semakin banyak berdiri. Organisasi wanita yang muncul misalnya:
1. Perkumpulan Kartinifonds di
Semarang,
2. Putri Merdika di Jakarta,
3. Wanita Rukun Santoso di Malang,
4. Maju Kemuliaan di Bandung,
5. Budi Wanito di Solo,
6. Kerajinan Amai Setia di Kota Gadang,
Sumatera Barat,
7. Serikat Kaum Ibu Sumatera di Bukit
Tinggi,
8. Gorontalosche Mohammedaansche
Vrouwenvereniging di Sulawesia Utara,
9. Ina Tuni di Ambon, dan lain-lain.
Selain
itu, terdapat juga organisasi wanita yang merupakan bagian dari induk
organisasi yang lebih besar. Organisasi wanita tersebut antara lain:
1. Aisiyah (Wanita Muhammadiyah),
2. Puteri Indonesia (Wanita dari Pemuda
Indonesia),
3. Wanita Taman Siswa.
Organisasi
wanita yang bergerak di bidang politik antara lain Isteri Sedar yang didirikan
di Bandung oleh Suwarni Jayaseputra. Organisasi ini bertujuan untuk mencapai
Indonesia merdeka. Sedangkan organisasi Isteri Indonesia pimpinan Maria Ulfah
dan Ibu Sunaryo Mangunpuspito bertujuan untuk mencapai Indonesia Raya.
Organisasi-organisasi
tersebut mengadakan Kongres Persatuan Wanita Indonesia di Yogyakarta pada
tanggal 22 sampai 25 Desember 1928. Hari pembukaan kongres tanggal 22 Desember
diperingati sebagai Hari Ibu. Dalam kongres tersebut dibentuk juga PPII
(Perserikatan Perhimpunan Isteri Indonesia) sebagai kumpulan organisasi wanita.
Itulah sejarah perkembangan organisasi wanita di Indonesia sehingga turut
membantu tercapainya Indonesia merdeka seperti sekarang ini.
Perempuan Dan
Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah suatu sikap mempengaruhi
orang lain untuk mencapai suatu tujuan dengan visi dan misi yang kuat. Jika
berbicara tentang kepemimpinan pasti dipikiran masyarakat umumnya identik
dengan kaum adam atau pria padahal jika kita menelaah perempuan juga mempunyai
jiwa kepemimpinan, yang tidak jauh berbeda keahliannya dalam memberi arahan,
dalam berorasi maupun beretorika atau bahkan memberi gagasan.
Menurut J.I. Brown dalam “Psychology and the Social
Order”, disebutkan bahwa
pemimpin tidak dapat dipisahkan dengan kelompok, tetapi dapat dipandang sebagai
suatu posisi yang memiliki potensi yang tinggi di bidangnya. Karakter seorang
pemimpin mampu mengubah, mempengaruhi dan mengarahkan orang lain dalam mencapai
satu tujuan yang memiliki visi dan misi yang kuat.
Ungkapan tersebut tentu saja dapat diartikan
bahwa peranan wanita dalam kepemimpinan sebenarnya bukanlah suatu hal yang
aneh. Dalam hal kesetaraan gender dapat diartikan bahwa, dengan adanya kesamaan
kondisi bagi laki-laki maupun perempuan dalam memperoleh kesempatan serta
hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam
kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan
keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.
Pada dasarnya semua orang dapat menjadi
pemimpin(leadership), Wanita tidak semuanya lemah ia ibarat sebuah banguan yang
kokoh dan merupakan fondasi yang berstruktur kuat. Hal ini dapat dilihat dari
perannya pada kehidupan bermasyarakat, dalam konsumen pembangunan bukan hanya
sebagai proses pembangunannya saja, sungguh menyedihkan apabila kita melihat
dari sudut pandang yang berlainan bahkan sudah banyak kenyataannya peran
seorang perempuan tradisional dianggap sebagai “cadangan” contohnya umur belia
sudah diharuskan menikah tanpa mengenyam pendidikan wajib,umumnya masyarakat
yang masih paguyuban(pedesaan).
Namun semakin berkembangnya zaman yang diawali
dengan sosok seorang perempuan yang berjuang khususnya dalam peregerakan
emansipasi wanita yaitu R.A Kartini dampaknya sekarang telah banyak dirasakan.
Keberadaan wanita kini mulai dihargai dan disetarakan walaupun masih banyak pro
dan kontranya.
Contoh wanita yang berhasil membuktikan
perempuan dapat menjadi salah satu pemimpin dalam sejarah Indonesia yaitu Megawati
Soekarno Putri, ini merupakan bukti nyata wanita dapat menjadi seorang pemimpin
yaitu sebagai Kepala Negara. .
Dengan terciptanya peran wanita dalam
berkesempatan memegang peranan sebagai kepemimpinan dapat membawa dampak yang
positif yaitu permasalahan kesetaraan gender ditandai dengan tidak adanya
perbedaan (diskriminasi) antara perempuan dan laki-laki. Dengan demikian
peempuan dan laki-laki memiliki peluang atau akses yang sama dalam
kepemimpinan. Hal itu ditandai dengan perempuan yang mampu memberikan suara,
berpatisipasi dalam pembangunan negara yang lebih baik. Tentu hal ini merupakan
kebijakan tersendiri yang memiliki manfaat persamaan serta adil dari
pembangunan. Hal ini harus selalu dibuktikan bahwa wanita dapat semakin maju
dalam kemimpinan.
Lima Rahasia Pemimpin Wanita
Sharon Hadary dan Laura Henderson, penulis buku
How Women Lead : The Essential Strategis Successful Women Know, mengatakan
kepemimpinan seorang wanita cenderung memberikan hasil sesuai harapan. Hasil
itu termasuk peluang yang lebih baik pada profitabilitas usaha dan penciptaan
banyak bisnis yang berbasis kreatif dan inovatif.
Dalam bukunya tersebut, keduanya menyampaikan hasil penelitian mereka selama dua dekade bahwa pemimpin wanita dalam bisnis jutaan dolar mampu mengkombinasikan kepemimpinan feminim yang unik dengan ketajaman berbisnis demi mencapaian tertinggi. Hadary dan Henderson juga memberikan rahasia bagaimana para pemimpin wanita bisa memaksimalkan kekuatan. Rahasianya adalah sebagai berikut:
1. Raih dan miliki takdir Anda.
Dalam bukunya tersebut, keduanya menyampaikan hasil penelitian mereka selama dua dekade bahwa pemimpin wanita dalam bisnis jutaan dolar mampu mengkombinasikan kepemimpinan feminim yang unik dengan ketajaman berbisnis demi mencapaian tertinggi. Hadary dan Henderson juga memberikan rahasia bagaimana para pemimpin wanita bisa memaksimalkan kekuatan. Rahasianya adalah sebagai berikut:
1. Raih dan miliki takdir Anda.
Penelitian terbaru yang dilakukan Hadary dan
Henderson mengungkap satu fakta baru, di mana wanita yang meraih kesuksesan
adalah mereka yang telah mendefinisikan kesuksesan dengan cara mereka sendiri.
Mereka mengintegrasikan pencapaian yang diraih dengan menciptakan bisnis yang
mencerminkan gairah mereka. Bisnis yang mereka jalankan menyediakan produk dan
jasa yang bertanggung jawab secara sosial, menawarkan kesempatan bagi
karyawannya untuk berkembang, membawa aura positif bagi lingkungan dan sekaligus
menghasilkan banyak profit. Pengusaha sukses menetapkan tujuan yang tinggi. Dan
ketika mencapai, mereka langsung menetapkan tujuan dengan tingkat yang lebih
tinggi lagi. “Perempuan harus memikirkan bisnis mereka sebagai bisnis satu juta
dolar dari hari pertama,”ujar Henderson. “Hal ini mendorong bagaimana mereka
menyusun struktur bisnis, keputusan yang akan dibuat serta cara menampilkan
diri sendiri dan bisnisnya.”
2. Memimpin layaknya seperti seorang wanita.
Wanita yang sangat sukses, membangun kekuatan
kepemimpinannya dari kolaborasi, inklusi dan konsultasi. Mampu menciptakan
perusahaan di mana semua ide dan wawasan setiap orang didengar dan
dipertimbangkan dalam membuat keputusan. Selain itu semua orang didalamnya
merasa dihargai dan bersama berkomitmen mencapai tujuan. Kepemimpinan wanita
memiliki gaya khusus yang mungkin tidak dijumpai pada kaum Adam. Wanita
berpikir lebih holistik. Itu berarti, ketika wanita melihat situasi, mereka
memiliki kecenderungan melampaui fakta-fakta yang spesifik berikut data dan
pertimbangan organisasi. Sebagai hasilnya, mereka mengidentifikasikan peluang,
resiko, kesenjangan yang kerap terlupa dan memperkuat daya saing.
3. Disiplin menyusun strategi dan keputusan.
Banyak pemimpin wanita yang kemudian rusak
kredibilitasnya sebagai pengusaha dengan membuka diskusi dan pernyataan tentang
kurangnya ketajaman bisnis. Hadary dan Henderson mengatakan para pengusaha dan
pemimpin wanita yang sukses selalu mendapat laporan keuangan secara berkala dan
mengindetifikasi kunci metriknya yaitu memberikan wawasan dan pengetahuan yang
dibutuhkan untuk menyusun strategi dan pengambilan keputusan
4. Perlunya membentuk dan membangun tim yang solid.
Dengan memperkerjakan yang terbaik sejak awal,
para wanita hebat ini merupakan seorang yang mampu bekerja secara efektif dalam
situasi bergerak cepat. Mereka umumnya memiliki berkomitmen yang tinggi, rasa
ingin tahu, berpikir kritis, berani mengambil resiko, rasa hormat dan
toleransi. Para wanita inipun memerlukan dan membentuk tim dengan memperkerjakan
anggota yang memiliki kategori atau setidaknya sama dengannya untuk
menghasilkan sebuat tim yang dapat mengidentifikasi dan menghasilkan solusi
disetiap masalah. Dengan membentuk dan membangun tim yang solid ini akan mampu
menghadapi tantangan yang selalu berkembang.
5.Merayakan Keberhasilan.
5.Merayakan Keberhasilan.
Wanita yang memiliki sifat khas untuk selalu
bersyukur dan merayakan keberhasilan. Karena itu tak ada yang salah untuk
merayakan apa yang telah diraih. Misalnya dengan me time menikmati liburan yang
ketika menempuh perjalanan ini akan mendapatkan ide-ide
Secara mendasar, gender berbeda dari
jenis kelamin biologis. Gender adalah perbedaan konsep tentang kepatutan
bagi perempuan dan laki-laki dalam segala hal yang lebih banyak dipengaruhi
adat, tradisi, dan lingkungan tempat tinggal.
Gender berupa seperangkat peran yang seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah feminim atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles peran gernder kita, (Julia Cleves Mosse,(1996:3).
Konten gender juga dapat dipelajari pada tahap produksi karena sebagian besar pilihan dan produksi media dilakukan pria. Dalam hal ini, perhatian juga harus diberikan kepada ‘berita’ yang sejak lama melanggengkan peranan pria, dan bentuk konten dominan (politik, ekonomi, olahraga) berorientasi pada khalayak pria.
Feminisme seperti yang telah disepakati adalah tindakan atau ideologi yang membela kesetaraan laki-laki dan perempuan. Feminisme sebagai sebuah aktivitas intelektual maupun sebuah strategi politik memiliki riwayat yang panjang (Spender:1983 ).
Kaum perempuan telah lama memperjuangakan untuk membebaskan diri dari ketidakadilan. Feminisme merupakan fokus pada sosial wanita dan keinginan untuk menghentikan tindakan/tekanan berdasarkan gender.
Gerakan Feminisme
Sejarah feminisme
Lahirnya
gerakan Feminisme yang dipelopori oleh kaum perempuan terbagi menjadi dua
gelombang dan pada masing-masing gelombang memiliki perkembangan yang sangat
pesat. Diawali dengan kelahiran era pencerahan yang terjadi di Eropa dimana Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de
Condoracet sebagai pelopornya. Menjelang abad 19 gerakan feminisme ini
lahir di Negara-negara penjajahan Eropa dan memperjuangkan apa yang mereka
sebut sebagai universal sisterhood
ALIRAN
a. Feminisme
liberal
Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal
ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara
penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan
berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap
manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak
secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan
keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan
itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di
dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara
dengan lelaki.
b. Feminisme radikal
Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai
reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di
Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri
pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta
dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai
namanya yang "radikal".
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa
penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan
merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu,
feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi,
seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan
laki-laki, dan dikotomi privat-publik. "The personal is political"
menjadi gagasan anyar yang mampu menjangkau permasalahan prempuan sampai ranah
privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan.
Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada
feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya membongkar persoalan-persoalan
privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
c. Feminisme post modern
Ide Posmo - menurut anggapan mereka - ialah
ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan
secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada
penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender
tidak bermakna identitas atau struktur sosial.
d. Feminisme anarkis
Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai
suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap
negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang
sesegera mungkin harus dihancurkan.
e. Feminisme Marxis
Aliran ini memandang masalah perempuan dalam
kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari
eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan
menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep
kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran
(exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai
konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan
direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada
keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan
proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki
dan penindasan terhadap perempuan dihapus.
f. Feminisme sosialis
Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada
Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa
Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem
pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan
pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu
masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
g. Feminisme postkolonial
Dasar pandangan ini berakar di penolakan
universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara
dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang
dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat
karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami
penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi
fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik
fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat.
Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women:
The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang
didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh
institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”
h. Feminisme Nordic
Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah
negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.Nordic
yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktek-praktek
yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman
dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi
melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.[4]
Pembangunan Mindset
Perempuan Di Lingkup Teknik
Pikiran kita adalah
segalanya. Lingkungan kampus membentuk pola pikir (mindset), suasana hati,
sikap dan kebiasaan kita. Itulah sebabnya mengapa ketika kita akan memulai
memimpin perubahan, keberhasilannya akan secara langsung tergantung pada
perubahan mindset masing-masing anggota tim kita. Boleh jadi seorang pemimpin
menghabiskan milyaran rupiah dan ribuan jam untuk melakukan reorganisasi dengan
teknologi terbaru dan terbesar, namun jika orang-orang didalamnya tidak
mengubah pola pikir dan kebiasaan mereka, hasilnya akan mudah kita tebak? Tentu
saja dengan moral kerja yang rendah, pengorbanan uang dan waktu menjadi sia-sia
belaka. Dengan demikian, keterampilan yang paling besar dibutuhkan pada saat
ini oleh semua pemimpin dan tim kerja, adalah kemampuan untuk mengubah dan
mengelola mindset. Adapun hal pertamakali yang perlu dipahami adalah
bagaimana pola pikir kita terbentuk.
Pemimpin
Ideal Berdasar 4 Kriteria Utama,
berikut ini:
1.
Benar dan Memiliki Kesungguhan. Benar dalam artian selalu
berperilaku dan bekerja di track yang berlandaskan kebenaran,
serta selalu memiliki kesungguhan dalam bersikap. Tak jarang beberapa di antara
kita memilih pemimpin berdasarkan kesuksesan yang diraihnya, atau bahkan karena
banyaknya harta calon pilihan, akan tetapi bagaimana si calon tersebut
mendapatkan kesuksesan dan kekayaan sama sekali tak diperhitungkan. Bisa jadi
semua kesuksesan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal. Oleh sebab itu
dengan selalu berjalan di atas jalan kebenaran dan memiliki kesungguhan dalam
mewujudkan kebenaran tersebut, dapat di jadikan salah satu kriteria utama dalam
mencari pemimpin yang tepat.
- Dapat Dipercaya. Orang yang dipilih ketahuan
korupsi? menggunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau
kerabatnya? kejadian ini kerap kita jumpai dalam sosok pemimpin gagal di
Indonesia, oleh sebab itu memilih orang yang bertanggung jawab penuh
dengan tugasnya, dan tidak menyalahgunakan wewenang yang diberikan,
tentunya menjadi syarat utama yang harus ada dalam diri seorang calon
pemimpin.
- Cerdas. Kriteria utama lainnya yang wajib dimiliki oleh sosok
pemimpin adalah, mempunyai kecerdasan. Bukan hanya sekedar cerdas (pintar)
dalam hal akademik, namun juga cerdas dalam mengambil keputusan, dapat
mencari jalan keluar dari masalah yang dijumpai dengan kemampuan menganalisa
dan memecahkan masalah akan menjadi landasan untuk memilih pemimpin yang
ideal.
- Jujur Dan Bertanggung Jawab. Siapa sih yang mau dipimpin
dengan orang yang suka PHP (Pemberi Harapan Palsu),
atau sering mengingkari ucapan dan janjinya. Pastinya kejujuran dan mampu
bertanggung jawab dengan apa yang diucapkan (dijanjikan), adalah syarat
mutlak yang harus melekat dalam diri seorang pemimpin.
Dengan
4 kriteria di atas, diharapkan agar kita tak lagi salah dalam memilih calon
pemimpin, dan juga bisa menjadi panduan untuk menetapkan seseorang yang pantas
dijadikan pemimpin. Selain kriteria utama tersebut, terdapat pula panduan wajib
untuk memilih pemimpin, yang disebutkan dalam hadist Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, diriwayatkan oleh Bukhari (6015) :
"Jika amanat telah disia-siakan, tunggu
saja kehancuran terjadi.
Ada
seorang sahabat bertanya : bagaimana
maksud amanat disia-siakan?
Nabi
menjawab :Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, makatunggulah kehancuran
itu"
Demikian materi Sejarah Pergerakan Wanita Indonesia yang smpat kami berikan, jangan lupa juga untuk membaca materi tentang Sejarah Awal Mula Berdirinya Candi Borobudur
RELOAD BONUS SPESIAL
ReplyDeleteYANG GAME DARI KAMI YANG TERLENGKAP DARI IDNPLAY
MULAI DARI |POKER | CEME | DOMINO99 | OMAHA | SUPER10 |
I BONUS HARIAN + BONUS MINGGUAN + BONUS PROMO TIAP BULANNYA
SIAP MELAYANI SEMUA BANK DI INDONESIA
BANK NASIONAL + BANK DAEERAH |
BBM : D8C0B757
WhastApp : 0812-2222-1680
Lnk : POKERAYAM(.PW)