Wednesday, January 3, 2018

Sejarah Suku Alor

Sejarah Suku Alor - Alor adalah kabupaten yang terletak di Nusa Tenggara Timur, ibukota dari provinsi ini adalah Kalabahi. Alor sendiri berbentuk kepulauan dimana dilintasi jalur perlayaran dagang Samudra, disebelah selatan pulau Alor adalah Timor Leste dan Selat Ombay, dibagian Utara Alor berbatasan dengan Laut Flores, di bagian Barat dengan Selat Lomblen dan Kabupaten Lembata, sedangkan di bagian Timur dengan kepulauan Maluku Tenggara Barat. Alor termasuk salah satu dari 92 pulau terluar di Indonesia karena berbatasan dengan Timor Leste dan Selat Ombay di sebelah selatan.


Sejarah Suku Alor
Sejarah Suku Alor

Sejarah Suku Alor
            Menurut sejarah, kerajaan tertua di Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaraan Munaseli yang berada di pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerjaan ini terlibat perang magic peristiwa seperti ini banyak ditemukan pada kerjaan-kerajaan jaman dahulu, karena masyarakat jaman dahulu masih percaya dengan hal-hal yang bersifat tabu. Perang ini dilakukan dengan cara kedua kerajaan tersebut saling melontarkan kata-kata gaib. Konon berdasarkan sejarah,dikatakan bahwa Kerajaan Munaseli mengirimkan lebah sedangkan Kerajaan Abui mengirimkan angin topan dan api pada akhirnya perang dimenangkan oleh Abui. Perang belum selesai, sehabis kalah dari kerajaan Abui, Munaseli terlibat perang juga dengan Pandai yang bertetangga dengannya. Dikarenakan kekalahan atas Kerajaan Abui, pada saat itu Kerajaan Munaseli meminta bantuan pada Kerajaan Majapahit tetapi yang ditemukan Majapahit hanyalah puing-puing dari Kerajaan Munaseli dengan kata lain Majapahit mengirimkan bala bantuan setelah penduduk dari Munaseli telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor jadi tidak heran jika banyak ditemukan orang bertampang Jawa di Munaseli. Bukan hanya Kerajaan Munaseli dan Abui saja, di pesisir pantai terdapat kerajaan Kui, Bunga Bali, Blagar, Pandai serta Baranua yang memiliki hubungan dekat satu sama lain, tidak heran jika mereka mengaku berasal dari leluhur yang sama.
letak Suku Alor
letak Suku Alor
Mayoritas agama pada penduduk Alor adalah kristen katolik dan kristen protestan, tapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah Larra/Lera yaitu matahari, Wulang yaitu bulan, Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air, Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan serta Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut. Sebagiannya lagi beragama islam, budha dan hindu. Agama kristen datang ke Alor awalnya karena keputusan Leserborn yang isinya membagi dilayah Nusa Tenggara Timur menjadi dua yang mengharuskan Alor untuk dikuasai Kolonial Belanda. Sekitar tahun 1900 Belanda mengirim dua tahanannya yang dibuang ke Alor dikarenakan daratan Alor yang pada saat itu masih terjal dan bergunung, kedua utusan itu bernama Mingga dan Heo yang beragam kristen, dimana mereka masuk dalam Zegi Pastoral yang berimam umat kristeani. Penduduk asli Alor yang masih menganut kepercayaan pada sukunya akan sesekali turun ke Pantai Makassar untuk berbelanja, tempat dimana Mingga dan Heo menetap. Disini terjadilah komunikasi dengan penduduk yang datang karena transaksi jual-beli serta kemahiran orang kristiani dalam Zegi Pastoral dan sosiologi, maka banyak penduduk yang simpati dan beralih memeluk agama kristen.

Mingga dan Heo membuat paham Zegi Pastoral seakan tidak hanya bergaul dengan sesama kristen tetapi juga penganut agama islam, maka dari itu mereka juga menjajaki penduduk asli yang masih tinggal di gunung-gunung dan berkomunikasi serta bersahabat dengan orang tua juga anak-anak. Sehingga sekitar  tahun 1905 dibuatlah sistem pendidikan yang disebut pula Sunday School. Yang pertama pendidikan umum yang berisi upaya untuk mengajarkan anak-anak kepada huruf,  yang kedua yatu memberikan oemahaman tentang kristen, yang ketiga yaitu berbakti bersama dengan membaca alkitab,berkhotbah,benyanyi. Hingga tahun 1980an para misionaris kristen silih berganti datang ke Aor dengan berbagai macam pekerjaan, ada yang pendeta, dokter ataupun perawat. Gereja pertama yang dibangun pada tahun 1912 di Alor adalah gereja Kalabahi, sekarang dikena dengan gereja Pola dan perlu diketahui bahwa perkerja untuk membuat gereja ini juga para tukang yang beragama islam, ini membuktikan bahwa adanya toleransi antar umat beragama di Alor sejak dahulu.

Terbukti toleransi antar suku Alor sudah terbangun sedari awal, tidak ada rasa risih ataupun dengki antar satu agama dengan agama lainnya. Latar belakang yang memunculkan rasa hormat terhadap satu agama dengan agama lainnya adalah, pemikiran masyarakat Alor bahwa menurut mereka masyarakat berasal dari satu tuhan yang sama dan tidak adanya prasangka buruk bahwa antar agama akan mengancm eksistensi agama lainnya. Hal yang mungkin menarik untuk dibahaa adalah, jika ada perayaan hari besar seperti Natal ataupun Idul Fitri masyarakat Alor tidak pandang keyakinan, mereka tetap saling membantu. Dikala Idul Fitri, halal bihalal, serta acara keislaman lainnya yang akan menjadi tukang masaknya adalah orang Alor yang beragama Nasrani. Sebaliknya, jika Natal datang makan muslim di Alor akan diajak untuk menjadi panitia Natal tersebut.

Masyarakat Alor percaya ada semacam nilai holistis yang muncul diantara  mereka, yaitu nilai kemanusiaan yang menyatukan alam semesta dan manusia terkait dengan itu mereka berpendapat bahwa sang pencipta, alama semesta dan manusia menjadi satu kesatuaan yang total dan tidak bisa diubah atau mutlak.

            Keindahan dari Alor sendiri masih terjaga karena, di kabupataen Alor masih terdapat suku tradisional Flores dengan adat istiadat yang tidak banyak berubah sejak zaman batu. Kebudayaan masih terjaga inilah yang membuat Alor menjadi tujuan untuk banyak wisatawan baik dalam atau luar negri, keramahan serta kesederhanaan masyarakatnya yang mudah untuk beradaptasi juga menjadi point penting bagi para wisatawan yang berkunjung.
 Berbagai macam adat serta kebudayaan di kabupaten Alor, mulai dari tarian, koleksi bersejarah, dan suku tradisional yang masih lekat dengan tradisinya. Jika berbicara tentang Alor tidak lengkap rasanya untuk tidak membahas tarian Lego-Lego didalamnya. Tarian Lego-Lego merupakan tarian tradisional Abui yang mendiami kampung Takpala.

Sejarah Suku Alor


Tarian ini dilakukan secara massal dimana satu dengan lainnya saing bergandengan tangan membentuk melingkar sambil mengelilingin tiga batu bersusun yang disebut mesbah dengan mengumandangkan lagu pantun dalam bahasa adat. Biasanya tarian ini dilakukan semalaman dengan diiringi gong dan moko, tarian khas asli Suku Alor ini melibatkan empat unsur dalam penyajiannya. Mereka yang membawakan tarian berkumpul dalam satu lingkaran. Lingkaran terluar diisi barisan lelaki dan lingkaran kedua oleh para pembaca syair, yang juga berperan sebagai pemimpin lagu. Sedangkan lingkaran ketiga kaum perempuan dan lingkaran inti diisi para musisi  yang memainkan gong dan moko.

Jika wisatawan ingin melihat tarian Lego-Lego ini, wisatawan sebelumnya memberitahukan dahulu ke dinas wisata agar warga Takpala tersebut dapat dikondisikan untuk menyuguhkan tarian ini. Sayangnya, seiring perkembangan zaman tarian Lego-lego sendiri biasanya hanya ditarikan oleh penduduk yang sudah lanjut usia ataupun sebegai formalitas jika adanya pernikahan atau upacara seremonial lainnya.

Kabupaten Alor memiliki museum dimana, museum tersebut menyimpan moko yaitu semacam alat musik seperti gendang. Museum ini menyimpan moko terbesr bernama moko nekara, biasanya digunakan sebagai alat upcara yang merupakan hasil kebudayaan zaman perunggu. Hampir tidak ada masyarakat di Indonesia yang mengoleksi moko selayaknya suku tradisonal di Alor, sampai-sampai moko dijadikan belis, mahar atau mas kawin. Ada pula yang beranggapan bahwa moko penting adanya karena merefleksikan jalinan asmara, ikatan cinta antara oemuda dan gadis di berbagai suku di Alor.
Tarian Suku Alor
Tarian Suku Alor

Alor juga terkenal akan pariwisatanya, khususnya taman laut yang berada diantara pulau Alor dan Pantar. Taman laut ini juga termasuk salah satu taman laut terbaik di dunia kedua setelah kepulauan Karibia, karena Alor memiliki taman laut yang langka dengan panorama bawah laut yang bahkan dapat dilihat dengan jelas di malam hari.

Alor seakan tidak akan ada habisnya untuk didalami lagi, banyak pelajaran yang didapat dari masyarakatnya yang ramah, hidup rukun, serta apik dalam menjaga alamnya. Bahkan di satu blog menyebutkan bahwa masyarakat Alor berpendapat, jika di Indonesia tidak memrpemasalahkan pluralisme agama atau bila perlu tidak harus diadakan kontruksi pluralisme agama dan tetap menjalankan agamanya masing-masing. Masyarakat Alor tak acak heran dengan konflik sosial di Indonesia yang memiliki latar belakang masalah keyakinan, karena walaupun mereka menetap di Nusa Tenggara Timur yang notabene sering rusuh dikarenakan masalah keyakinan toh pada akhirnya mereka tetap hidup rukun satu sama lain.
           

Sumber                  :
ALOROZO%20BLOG%20%20ALOR%20DULU%20DAN%20SEKARANG.htm
Kabupaten%20Alor%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.htm
Keindahan%20Pulau%20Alor%20-%20Nusa%20Tenggara%20Timur%20-%20Wisata%20Eksotis%20Indonesia.htm
Kekristenan_di_Nusa_Tenggara_Timur.htm
CKristenisasi%E2%80%9D%20Di%20Alor%20Nusa%20Kenari%20_%20Aklahat.htm
Menebar Kerukunan%20dari%20Prinsip%20Hidup%20Orang%20Alor%20~%20Kapital%20Sosial.htm

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah Suku Alor

  • Sejarah Peradaban Islam di Turki Sejarah Peradaban Islam di Turki - Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemundura ...
  • Sejarah Peradaban Mesir Kuno Sejarah Peradaban Mesir Kuno - Pada awalnya disadari oleh para ilmuwan di bidang kesehatan bahwa RM telah dilaksanakan sejak lama. Dalam sejarah, lahirnya rekam m ...
  • Sejarah Kerajaan Pajajaran Sejarah Kerajaan Pajajaran - Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah ibu kota (Dayeuh dalam Bahasa Sunda Kuno) Kerajaan Sunda Galuh yang pernah ber ...
  • Sejarah Kerajaan Kutai Sejarah Kerajaan Kutai - Patut disyukuri bahwa Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki latar belakang kebanggaan sejarah yang luar biasa yakni sebagai kerajaan tertua di I ...
  • Sejarah Peradaban Lembah Sungai Tigris Dan Eufrat ( Mesopotamia ) Sejarah Peradaban Lembah Sungai Tigris Dan Eufrat ( Mesopotamia ) - Kata “Mesopotamia” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “antara dua sungai”, yang mana antar ...
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment